Gelar Halal bi Halal, IDI Kota Sukabumi Suguhkan ‘Tausyiah Keilmuan’

5 hours ago 4
SAMBUTAN: Ketua IDI Cabang Kota Sukabumi, dr. Asep Tajul saat memberikan sambutan pada acara halal bi halal dan seminar kesehatan di salah satu hotel di Kota Sukabumi, Sabtu (11/4). FOTO: WAHYU/RADAR SUKABUMI

SUKABUMI – Ada yang berbeda dalam tradisi Halal bi Halal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Sukabumi tahun ini.

Jika biasanya momentum pasca-Lebaran ini kental dengan ceramah keagamaan, IDI Kota Sukabumi justru memilih menyajikan ‘Tausiyah Keilmuan’ bagi para anggotanya di salah satu hotel di Kecamatan Cikole, Sabtu (11/4/2026).

Ketua IDI Cabang Kota Sukabumi, dr. Asep Tajul, mengungkapkan bahwa pergeseran konsep ini bertujuan untuk membekali para dokter dengan pembaruan regulasi dan inovasi medis yang berkembang pesat.

Salah satu sorotan utama dalam pertemuan tersebut adalah kehadiran putra daerah asal Tipar, Sukabumi, yang telah menjadi pakar nasional, yakni Prof. dr. Ahmad Fauzi Kamal.

Sebagai konsultan Ortopedi dan Onkologi, Prof. Ahmad memaparkan metode revolusioner dalam penanganan kanker tulang pada anak.

“Dulu, pasien kanker tulang seringkali harus berakhir dengan amputasi. Namun, dengan metode yang ditemukan Prof. Ahmad, ekstremitas atau kaki pasien kini bisa dipertahankan tanpa harus diamputasi. Ini adalah pembaruan pengetahuan yang sangat luar biasa bagi teman-teman sejawat,” ujar dr. Asep Tajul.

Selain kanker tulang, IDI juga memberikan perhatian khusus pada penanganan Tuberkulosis (TBC). Mengingat angka kasus TBC yang masih fluktuatif, para dokter diingatkan kembali mengenai protokol penanganan terbaru agar pemutusan rantai penularan di Kota Sukabumi lebih efektif.

Pertemuan ini juga menjadi ajang diskusi kritis terkait implementasi UU Kesehatan terbaru.

Asep mengakui bahwa masuknya aturan kesehatan ke dalam skema Omnibus Law membawa perubahan mendasar, baik secara kebijakan maupun teknis tindakan di lapangan.

Menurutnya, regulasi baru ini mengubah pola hubungan antara dokter dan pasien. Kini, pasien memiliki hak pilih yang lebih luas, baik dalam menentukan dokter maupun jenis pengobatan.

“Sekarang pasien boleh memilih mau ke dokter siapa dan memilih pengobatan apa. Ini bukan kerugian bagi dokter, tapi tantangan. Dokter harus lebih banyak belajar lagi karena di era informasi ini, bisa jadi pasien lebih update daripada dokternya,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Asep menekankan bahwa era saat ini menempatkan dokter dan pasien dalam posisi diskusi yang setara. Dokter dituntut untuk mampu menawarkan berbagai opsi alternatif pengobatan, termasuk membandingkan penemuan metode baru dengan cara konvensional.

“Edukasi terkait etika profesi dan regulasi ini sangat krusial agar teman-teman sejawat tidak salah langkah dan tetap bisa memberikan layanan terbaik di tengah perubahan hukum yang kompleks,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu menyolidkan barisan para dokter di Kota Sukabumi agar tetap profesional, adaptif terhadap teknologi, dan tetap humanis dalam melayani masyarakat. (why)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |