RAMADAN DAN ETOS MEMBANGUN KOTA: Spiritualitas sebagai Fondasi Pembangunan Kota Sukabumi

6 hours ago 3

Oleh: H. Ayep Zaki, Wali Kota Sukabumi

Bulan Ramadan memiliki posisi sentral dalam kehidupan umat Islam. Ia adalah bulan pendidikan ruhani yang membentuk karakter takwa. Namun dalam konteks sosial dan pemerintahan, Ramadan juga merupakan *madrasah kepemimpinan*. Nilai-nilai yang dilatih selama Ramadan sesungguhnya relevan dengan tantangan pembangunan daerah: pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas layanan publik, penguatan ekonomi rakyat, dan tata kelola pemerintahan yang bersih.

Kota Sukabumi, sebagai kota jasa dan pendidikan, menghadapi dinamika sosial-ekonomi yang kompleks. Di sinilah Ramadan menjadi sumber energi moral untuk memperkuat orientasi pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan manusia dan karakter masyarakatnya.

Puasa mengajarkan kejujuran dalam ruang yang tidak terlihat. Seseorang bisa saja membatalkan puasanya tanpa diketahui orang lain, namun ia memilih untuk tetap taat. Inilah inti integritas.

Dalam tata kelola pemerintahan, integritas adalah fondasi utama. Aparatur yang memiliki kesadaran spiritual akan bekerja bukan semata karena pengawasan, tetapi karena kesadaran moral. Ramadan membentuk self control, yang dalam konteks birokrasi bermakna pengendalian diri dari penyalahgunaan kewenangan.

Pembangunan kota yang baik hanya dapat terwujud jika nilai integritas menjadi budaya kolektif, bukan sekadar slogan administratif.

Ramadan mempertemukan dimensi spiritual dan sosial melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Ibadah-ibadah ini membangun kesadaran kolektif bahwa kesejahteraan adalah tanggung jawab bersama.

Dalam pembangunan kota, solidaritas sosial menjadi modal sosial yang sangat penting. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan lembaga sosial menjadi faktor penentu keberhasilan.

Spirit berbagi di bulan Ramadan dapat ditransformasikan menjadi gerakan ekonomi kerakyatan, penguatan UMKM, dan pembentukan dana sosial produktif yang berkelanjutan. Kota yang kuat bukan hanya karena APBD yang besar, tetapi karena solidaritas warganya.

Puasa melatih disiplin waktu, pengaturan pola hidup, dan manajemen diri. Nilai ini relevan dengan budaya kerja dan pelayanan publik.

Kota yang maju membutuhkan aparatur dan masyarakat yang produktif. Ramadan mengajarkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk menurunkan kualitas kerja. Justru dalam kondisi berpuasa, umat Islam didorong untuk tetap berprestasi.

Dalam konteks Sukabumi, etos ini menjadi penting untuk mendorong inovasi pelayanan, digitalisasi sistem, dan percepatan reformasi birokrasi.

Tujuan akhir Ramadan adalah takwa. Takwa bukan hanya konsep teologis, tetapi prinsip etika sosial: menghadirkan keadilan, kejujuran, dan kepedulian dalam setiap kebijakan.

Kota yang dibangun dengan nilai takwa akan:

1. Mengutamakan kesejahteraan masyarakat kecil.

2. Menghindari kebijakan yang eksploitatif.

3. Menempatkan pembangunan sebagai amanah, bukan proyek semata.

Pembangunan yang bermartabat adalah pembangunan yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial.

Ramadan adalah momentum refleksi sekaligus akselerasi. Ia mengingatkan bahwa pembangunan kota bukan sekadar urusan beton dan aspal, tetapi pembangunan karakter, kepercayaan, dan solidaritas.

Kota Sukabumi yang kita cita-citakan adalah kota yang maju secara fisik, kuat secara ekonomi, dan luhur secara moral. Spirit Ramadan memberikan arah dan energi untuk mewujudkan itu semua.

Semoga Ramadan tahun ini tidak hanya memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat komitmen kita untuk bersama-sama membangun Kota Sukabumi yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bermartabat. ***

Read Entire Article
Information | Sukabumi |