SUKABUMI — Komite Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Sukabumi menggelar silaturahmi dan halal bihalal yang dirangkaikan dengan workshop parenting dan konseling di Aula MTsN Kota Sukabumi, Senin (27/4/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi antara orang tua dan sekolah dalam membentuk karakter anak di tengah tantangan era modern.
Mengusung tema “Strategi Komunikasi Adaptif Menjadi Sahabat Anak di Era Modern”, kegiatan tersebut diikuti ratusan orang tua siswa kelas VII dan VIII.
Suasana berlangsung hangat dan interaktif dengan menghadirkan narasumber kompeten, di antaranya psikolog Rati Badriyati, konselor Sri Lena, serta layanan konseling dari Fasilitator Sekolah Perempuan Jawa Barat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua TP PKK Kota Sukabumi Ranty Rachmatillah Zaki, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP2KBP3A Kota Sukabumi Ineu Nuraeni, Kepala MTsN Kota Sukabumi Ernawati, serta Ketua Komite Ajeng Gantini beserta jajaran.
Ketua Komite MTsN Kota Sukabumi, Ajeng Gantini, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang halal bihalal, tetapi juga wadah memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar. Selain menjadi momentum silaturahmi, hari ini juga dilaksanakan sosialisasi menjelang sumatif akhir tahun dari pihak madrasah,” ujarnya.
Ajeng menekankan pentingnya pembekalan parenting bagi para wali murid agar mampu mendampingi anak secara optimal, baik dari sisi akademik maupun psikologis.
“Kami berharap setelah mengikuti kegiatan ini, para orang tua semakin siap mendampingi tumbuh kembang anak dan mendukung kesiapan akademik mereka demi mewujudkan generasi MASAGI yang gemilang,” tuturnya.
Ia juga menilai tingginya partisipasi orang tua menjadi indikator meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola asuh yang sehat dan adaptif.
Sementara itu, Kepala MTsN Kota Sukabumi, Ernawati, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Komite Madrasah yang menghadirkan forum edukatif bagi para wali murid.
“Saya merasa bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan ini. Ini sangat bermakna karena menghadirkan psikolog, konselor, hingga fasilitator Sekolah Perempuan Jawa Barat,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran Ketua TP PKK Kota Sukabumi juga menjadi simbol kuat dukungan pemerintah terhadap pendidikan berbasis kolaborasi.
“Ini merupakan kehormatan bagi keluarga besar MTsN. Kehadiran beliau menunjukkan perhatian pemerintah terhadap sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter generasi masa depan,” katanya.
Ernawati menegaskan bahwa pendidikan anak tidak bisa hanya bertumpu pada sekolah semata, melainkan membutuhkan kemitraan erat dengan orang tua.
“Dengan pola pengasuhan yang tepat, komunikasi yang sehat, dan pendampingan penuh kasih sayang, kita bisa mencetak anak-anak yang berakhlak mulia, mandiri, dan berprestasi,” tegasnya.
Ia pun mengajak para wali murid untuk terus terlibat aktif dalam setiap program pendidikan di madrasah.
“Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal memperkuat kemitraan kita demi masa depan anak-anak yang lebih baik,” tambahnya.
Dalam sesi parenting, Ketua TP PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatillah Zaki, menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak.
“Orang tua jangan hanya hadir sebagai pemberi arahan, tetapi juga harus mampu menjadi pendengar yang baik bagi anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pola komunikasi di era modern menuntut pendekatan yang lebih fleksibel dan tidak menghakimi.
“Bangun komunikasi dua arah, gunakan bahasa yang lembut, dan jangan mudah menghakimi. Orang tua harus bisa menjadi sahabat bagi anak saat mereka menghadapi berbagai tantangan zaman,” jelasnya.
Ranty juga menyoroti pentingnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak sebagai benteng menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pengaruh lingkungan sosial hingga perkembangan dunia digital.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memahami konsep inner child, yakni pengalaman masa kecil yang dapat memengaruhi pola asuh seseorang di masa depan.
“Sering kali luka masa lalu yang belum selesai memengaruhi cara kita mendidik anak. Karena itu, orang tua perlu mengenali diri dan menyembuhkan luka batin agar pola asuh yang lahir lebih sadar, sabar, dan penuh empati,” pungkasnya.(wdy)




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515320/original/063647700_1772170133-dokumentasi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503087/original/002679900_1771083848-Dancow_Indonesia_Cerdas_1.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482516/original/097675800_1769226563-IMG_3742.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500165/original/009970600_1770817333-1280x847.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494340/original/092829300_1770285248-0L5A4829.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468470/original/003241900_1767952076-LAURENT_DESIGN.jpg)
