Oleh: Taufik Muhammad Guntur
Anggota DPRD Kota Sukabumi Fraksi Partai NasDem
RAMADHAN bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi bulan pembentukan kesadaran sosial dan kekuatan kolektif umat. Dalam sejarah Islam, Ramadhan selalu menjadi momentum perubahan besar baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun ekonomi. Di tengah sistem global yang semakin kapitalistik dan eksploitatif, nilai-nilai Ramadhan justru menawarkan koreksi mendasar terhadap ketimpangan ekonomi dan dominasi modal.
Kapitalisme eksploitatif sering kali melahirkan konsentrasi kekayaan pada segelintir kelompok, eksploitasi sumber daya tanpa batas, serta budaya konsumtif yang menjauhkan manusia dari nilai kemanusiaan. Ramadhan hadir sebagai madrasah pengendalian diri dan distribusi keadilan.
Pertama, puasa melatih pengendalian konsumsi. Dalam sistem kapitalisme modern, manusia didorong untuk terus membeli dan menghabiskan. Ramadhan justru mengajarkan kesederhanaan, menahan diri, serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kesadaran ini adalah fondasi ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
Kedua, Ramadhan menguatkan mekanisme redistribusi kekayaan melalui zakat, infak, dan sedekah. Ini bukan sekadar amal personal, tetapi sistem sosial yang memastikan harta tidak berputar di kalangan tertentu saja. Distribusi ini mempersempit jurang ketimpangan dan memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat bawah.
Ketiga, Ramadhan menjadi momentum penguatan ekonomi umat. Pasar Ramadhan, gerakan membeli produk UMKM lokal, koperasi berbasis masjid, serta wakaf produktif adalah contoh konkret bagaimana ekonomi berbasis solidaritas dapat tumbuh. Ketika umat saling menguatkan secara ekonomi, ketergantungan pada sistem yang tidak adil dapat dikurangi.
Selain aspek ekonomi, Ramadhan juga memperkuat ukhuwah Islamiyah. Rasa lapar yang dirasakan bersama membangun empati sosial. Buka puasa bersama, santunan anak yatim, bantuan sembako, hingga penghapusan utang bagi yang kesulitan adalah praktik nyata solidaritas. Di sinilah Ramadhan menjadi ruang perlindungan sosial bagi yang lemah.
Sebagai wakil rakyat, saya meyakini bahwa semangat Ramadhan perlu diterjemahkan dalam kebijakan publik yang berpihak pada rakyat kecil, penguatan UMKM, perlindungan pedagang kecil dari praktik monopoli, serta kebijakan distribusi yang adil. Ramadhan mengajarkan bahwa keberkahan ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan angka, tetapi dari sejauh mana kesejahteraan dirasakan bersama.
Ramadhan adalah bulan pembebasan membebaskan manusia dari kerakusan, membebaskan masyarakat dari ketimpangan, dan membebaskan umat dari ketergantungan ekonomi yang melemahkan. Jika nilai-nilai Ramadhan dihidupkan sepanjang tahun, maka ia akan menjadi fondasi perlawanan moral terhadap kapitalisme eksploitatif dan menjadi jalan menuju ekonomi yang berkeadilan serta berkeberkahan. Semoga Ramadhan tidak hanya menguatkan iman kita, tetapi juga menguatkan solidaritas dan kemandirian ekonomi umat. ***






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3485581/original/069362400_1623927408-franck-1Z87M8ohPkc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5446680/original/044858100_1765938416-superbank_2.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/673735/original/bisnis-online.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5408779/original/096219900_1762834524-WhatsApp_Image_2025-11-11_at_09.24.04.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5408271/original/013176700_1762768166-Gemini_Generated_Image_c9gfx0c9gfx0c9gf.png)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417962/original/021931100_1763555316-IMG_0958_1_.jpeg)