
SUKABUMI – SMKN 4 Sukabumi kembali menunjukkan konsistensinya di ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Nasional 2026. Kali ini, Muhammad Fauzan berhasil membawa pulang medali perunggu pada bidang Welding/Teknik Pengelasan dalam kompetisi yang digelar di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jumat (31/7/2026).
Hasil tersebut sekaligus memperpanjang catatan positif SMKN 4 Sukabumi yang selama empat tahun berturut-turut mampu menembus podium LKS Nasional pada cabang pengelasan. Sejak 2023 hingga 2026, sekolah ini terus melahirkan peserta terbaik dengan raihan juara dua, juara satu, juara satu, hingga kini juara tiga nasional.
Muhammad Fauzan mengaku bersyukur atas hasil yang diraihnya setelah melalui proses persiapan panjang dan persaingan ketat. Baginya, medali perunggu menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan di bidang pengelasan.
“Saya sangat bersyukur bisa meraih juara tiga di LKS Nasional 2026. Ke depan saya ingin terus meningkatkan kompetensi di bidang pengelasan agar bisa mengikuti lomba hingga tingkat Asia bahkan internasional,” ujarnya.
Menurut Fauzan, kedisiplinan, ketekunan, dan latihan yang konsisten menjadi kunci utama dalam menghadapi kompetisi. Namun, pelaksanaan lomba tahun ini tidak lepas dari berbagai kendala. Ia mengungkapkan adanya keterbatasan material dan bahan habis pakai, bahkan modul soal berubah secara mendadak sehingga peserta harus menyesuaikan diri dengan peralatan yang tersedia.
“Kami menggunakan bahan seadanya karena perlengkapan untuk lomba belum lengkap. Modul soal juga berubah mendadak sehingga harus cepat beradaptasi,” katanya.
Guru pembimbing sekaligus pengajar produktif pengelasan SMKN 4 Sukabumi, Muhsin Munawar, mengaku tetap bersyukur atas capaian anak didiknya meski target awal adalah mempertahankan gelar juara pertama nasional.
“Alhamdulillah kami tetap bersyukur. Memang cita-cita kami mempertahankan juara satu, tetapi dalam perlombaan pasti ada juara satu, dua, dan tiga. Yang terpenting kami masih bisa membawa pulang prestasi dan itu patut disyukuri,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil pembinaan yang dilakukan sejak siswa masih duduk di bangku kelas X. Setiap tahun sekolah melakukan penyaringan terhadap empat hingga lima siswa terbaik dari setiap kelas untuk mendapatkan pembinaan lebih awal dibandingkan siswa lainnya.
Proses seleksi tidak hanya melihat kemampuan praktik pengelasan, tetapi juga mempertimbangkan sikap, kedisiplinan, pengetahuan, hasil pekerjaan harian, hingga tes matematika dasar dan wawancara mengenai motivasi serta tujuan masa depan siswa.
“Bahkan sejak kelas X mereka belajar lebih dulu. Banyak yang rela membeli sendiri material latihan karena saat itu belum masuk pembelajaran wajib. Kami sebagai guru lebih banyak mengarahkan, sementara mereka berlatih dengan semangat dan inisiatif sendiri,” jelasnya.
Muhsin juga menyoroti sejumlah kendala yang terjadi selama pelaksanaan LKS Nasional tahun ini. Menurutnya, keterbatasan material seperti plat dan bahan habis pakai menyebabkan peserta harus menggunakan material yang tersedia di sekolah penyelenggara. Kondisi tersebut membuat jadwal perlombaan sempat mengalami keterlambatan dan modul praktik harus diubah secara mendadak.
“Ini baru pertama kali kami mengalami kondisi seperti ini. Harapannya ke depan persiapan penyelenggaraan bisa lebih matang sehingga peserta dapat bertanding dengan fasilitas yang sesuai dan tidak lagi terkendala material maupun perubahan modul saat lomba berlangsung,” tuturnya.(wdy)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554154/original/075633800_1776061310-KAI_Acces.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566130/original/037654700_1777115193-Nnicgi2v3KAezF9tDS92s4.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557540/original/022217200_1776334209-1_-_HUAWEI_Mate_80_Pro.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)



