TAUSIYAH RAMADAN 2026: Si Fakir Bertanya, Allah di Mana?

5 hours ago 3

Oleh : Dudung Nurullah Kosawara

SEORANG bijak berkata “Allah tidak bertempat dan tidak membutuhkan rumah, bahkan tidak di kitab suci”. Seorang fakir bertanya, “Dimana Allah”. Seorang bijak menjawab “Allah di nafas Mu, di hati Mu, di adab dan akhlak mulia Mu”.

Si Fakir bertanya lagi “Bagaiman kita mengenal Allah?”. Si Bijak menjawab, “Meniti ke dalam diri, kenali diri Mu maka kamu akan mengenal Allah”. Si Fakir bertanya lagi “Di diri yang mana Allah bisa dikenali”. Si Bijak menjawab “Di puncak kesadaran diri, diri yang berkesadaran”.

Dialog di atas adalah dialog dua orang yang sama sama belajar dan mencoba mengidentifikasi keber_Tuhanan. Kita semua adalah makhluk Tuhan dan Ia ada dalam diri kita sebagai produk_Nya. Bahkan bukankah ruh_Nya ditiupkan ke dalam diri kita? Lihat Surah Sad ayat 72 dan juga Surah Al-Hijr ayat 29.

Hadits Qudsi mengungkapkan “Qolbun mukmin baitullah” menjelaskan Allah tidak di bangunan suci, di kitab suci dan di benda benda suci tertentu. Allah ada di hati yang suci, pikiran yang suci, kata kata yang suci, tindakan yang suci. Bukankah kitab suci, bangunan suci di awali oleh kata kata yang suci dari para nabi?

Tidak ada kitab suci, bangunan suci dan benda suci keluar dari pohon, angin, air dan tanah. Semuanya “keluar” dari kata kata orang suci yang tersambung dengan Yang Maha Suci. Allah yang maha, memahakan diri_Nya melalui diri diri yang suci. Para nabi adalah diri diri yang suci yang telah mencapai puncak kesadaran.

Seorang bijak pun meluaskan kesucian Allah dengan mengatakan “Semua yang ada hakekatnya suci”. “Mengapa” kata Si Fakir? Si Bijak menjawab “Karena semua berawal dari ciptaan dan ijin Yang Maha Suci”. Semua keberadaan adalah manifestasi dari Yang Maha Suci.

Sahabat pembaca, hanya Allah yang tidak belajar. Kita semua umat manusia, wajib belajar dan belajar. Kalau kita tidak belajar maka kita menjadi sombong bagaikan Allah. Hanya Allah yang tidak belajar. Kalau kita tidak belajar maka Allah akan merendahkan derajat kita. Kalau kita belajar maka Allah akan meninggikan derajat kita.

Belajar itu hakekatnya “merendahkan diri” pada Allah, hanya Ia yang tidak belajar. Kalau kita tidak belajar hakekatnya “meninggikan diri” mensejajarkan diri dengan_Nya. Mari kita meredahkan diri pada Allah dengan terus belajar dan mari merendahkan hati pada sesama makhluk_Nya.

Kisah “Setan takut pada orang tidur daripada yang sholat” adalah kisah populer yang menyoroti keutamaan ilmu atas ibadah tanpa ilmu. Iblis dikisahkan takut pada orang berilmu yang sedang tidur daripada ahli ibadah yang bodoh, karena orang berilmu jika bangun dapat membetulkan ajaran, sementara ibadah tanpa ilmu mudah dirusak.

Kisah populer di atas menjelaskan pesan substantif dari Nabi Muhammad SAW kepada kita umat manusia. Orang alim, orang berilmu adalah diantara orang yang mendapatkan karunia_Nya. Karena ada karunia_Nya dalam diri Si Alim maka Iblis pun silau dan tak kuasa berhadapan dengannya. Ada cahaya_Nya dalam diri para alim.

Mari kita terus belajar dan belajar agar semakin mengenali_Nya, tak kenal maka tak sayang. Orang yang tidak sayang, tidak punya vibrasi, energi dan frekuensi kasih sayang_Nya, bisa jadi karena tidak mengenali_Nya. Keber_Allah_an seseorang bisa terlihat dari kasih sayang dan wujud akhlak yang suci.

Allah ada di mana? Tidak identik di lokus geografis tertentu, melainkan ada dalam lokus imanenis yang transendensis di setiap manusia yang alim, mursyid dan suci. Seorang ibu solehah, adalah seorang yang punya hati yang suci bagi anak anaknya, ada Allah dalam hatinya. Surga pun berada di bawah telapak kakinya, tak sederajat dengannya. (***)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |