STIKes Sukabumi Latih Remaja Pesisir Hadapi Gempa dan Tsunami

3 hours ago 2

SUKABUMI-— Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Sukabumi kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi melalui serangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan secara terpadu oleh seluruh program studi.

Ketua STIKes Sukabumi, Iwan Permana, menegaskan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) merupakan bagian penting dari Tridharma Perguruan Tinggi yang wajib dilaksanakan oleh setiap dosen sesuai visi dan misi program studi. Salah satu PkM yang saat ini menjadi fokus utama adalah pelatihan kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami bagi remaja sekolah di wilayah pesisir pantai Kabupaten Sukabumi.

Program pengabdian ini merupakan implementasi berkelanjutan dari hasil penelitian para dosen, khususnya dari Program Studi S1 Keperawatan dan Profesi Ners, yang terus mendorong peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

Iwan menjelaskan bahwa remaja sekolah dipilih sebagai target utama karena memiliki potensi besar untuk berperan aktif dalam upaya penyelamatan diri maupun membantu orang lain saat bencana terjadi.

“Remaja merupakan kelompok yang cepat belajar, memiliki mobilitas tinggi, dan mampu menjadi agen perubahan di lingkungannya. Di daerah pesisir, kemampuan kesiapsiagaan mereka menjadi sangat penting karena memiliki risiko tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami,” ujarnya.

Pelatihan ini difokuskan pada sekolah-sekolah di wilayah pesisir yang selama ini masuk dalam zona rawan gempa. Para siswa diberikan pemahaman dasar tentang jenis-jenis bencana, potensi ancaman, serta langkah penyelamatan diri yang benar.

Program ini dilaksanakan oleh 13 dosen dan 9 mahasiswa, serta menghadirkan dukungan penuh dari para guru sekolah dan tim ambulans RS Bhayangkara sebagai mitra lapangan. Kolaborasi ini memastikan kegiatan berjalan komprehensif, mulai dari edukasi teori hingga demonstrasi praktik yang aman dan sesuai standar.

Menurutnya, program kesiapsiagaan bencana ini bukan kegiatan satu kali, melainkan dilaksanakan secara rutin sesuai rencana operasional program studi. Setiap pelatihan merupakan kelanjutan dari riset dan evaluasi yang telah dilakukan sebelumnya.

“Setiap tahun kami melakukan pengembangan materi berdasarkan hasil penelitian dosen. Dengan begitu, PkM selalu relevan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Iwan berharap setiap sekolah yang telah mendapatkan pelatihan dapat terus mengembangkan budaya kesiapsiagaan bencana dan membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah.

“Kami berharap ilmu yang telah diberikan bisa diterapkan terus-menerus. Sekolah juga diharapkan bisa membentuk tim siaga bencana sehingga seluruh warga sekolah lebih siap dan sigap saat kondisi darurat,” ujarnya.

Selain itu, para dosen STIKes diharapkan terus menghasilkan penelitian yang dapat diterjemahkan menjadi program pengabdian masyarakat, sehingga kontribusi akademik terhadap masyarakat semakin nyata.

Sementara itu, kegiatan yang dipimpin langsung oleh Johan Budhiana, Kepala LPPM STIKes Sukabumi sekaligus Dosen Program Studi Sarjana Keperawatan ini menuturkan melalui pendekatan kolaboratif lintas prodi, kegiatan PkM kali ini menyasar berbagai kelompok masyarakat dengan tema, metode, dan materi yang disesuaikan berdasarkan bidang keilmuan serta hasil penelitian para dosen. Program ini menjadi bagian strategis dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan bencana, terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi.

Program Studi Sarjana Keperawatan menyelenggarakan kegiatan edukasi dan simulasi kesiapsiagaan gempa bumi bagi siswa SMK Mutiara Pelabuhan Ratu. Pelajar dipilih sebagai sasaran utama karena dinilai memiliki potensi besar dalam menjadi agen perubahan, khususnya di kawasan pesisir yang rawan gempa dan tsunami.

Johan menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi berkelanjutan dari hasil penelitian dosen, yang fokus pada penguatan kesiapsiagaan bencana di kalangan remaja sekolah.

“Remaja memiliki peran penting sebagai kelompok yang mampu membantu kesiapsiagaan bencana. Daerah pesisir pantai menjadi prioritas karena memiliki risiko gempa bumi yang dapat memicu tsunami,” terangnya.

Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi, hingga praktik penanganan dasar bencana, mulai dari pengenalan jenis bencana gempa bumi, cara menolong korban sesuai kriteria kasus, hingga teknik transportasi pasien. Program Studi Diploma III Keperawatan melaksanakan penyuluhan kesehatan di RW 01 Kelurahan Selabatu dan di SMAN 1 Kota Sukabumi. Edukasi meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit, hingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan di tengah berbagai risiko penyakit yang dapat dicegah melalui perilaku sederhana, seperti cuci tangan, sanitasi lingkungan, serta pola hidup bersih.

Sementara itu, Program Studi Diploma III Kebidanan dan Sarjana Kebidanan fokus pada edukasi kesehatan ibu dan anak bagi Wanita Usia Subur (WUS), ibu hamil, ibu nifas, serta ibu dengan balita. Materi edukasi mencakup perawatan kehamilan, tanda bahaya persalinan, perawatan masa nifas, tumbuh kembang bayi dan balita, hingga pencegahan komplikasi kesehatan ibu dan anak. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan risiko masalah kesehatan pada kelompok rentan tersebut.

Selama kegiatan berlangsung, masyarakat terlihat sangat antusias. Peserta aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi, mengikuti simulasi, hingga memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang disediakan oleh tim PkM. Antusiasme tinggi ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, tim dosen menerapkan metode yang variatif, mulai dari ceramah, diskusi, tanya jawab, penggunaan media sederhana, hingga simulasi lapangan. Metode inovatif diterapkan untuk memastikan peserta mudah memahami materi dan merasa nyaman mengikuti kegiatan.

Meski demikian, sejumlah tantangan turut dihadapi, seperti variasi tingkat pendidikan peserta dan keterbatasan waktu. Untuk mengatasinya, dosen melakukan pendekatan komunikatif, melibatkan tokoh masyarakat, dan menyesuaikan jadwal kegiatan dengan kondisi sasaran.

STIKes Sukabumi memastikan bahwa kegiatan PkM tidak berhenti setelah pelaksanaan. Tim akan melakukan program lanjutan berupa pemantauan berkala, koordinasi dengan puskesmas dan kader kesehatan, survei perubahan pengetahuan dan perilaku peserta, serta pelaksanaan pelatihan rutin di sekolah-sekolah yang menjadi mitra.

Johan menuturkan sekolah yang telah mendapatkan pelatihan juga didorong untuk membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah guna memperkuat budaya kesiapsiagaan.
Untuk itu, ia menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat memberikan dampak berkelanjutan.

“Kami berharap masyarakat dapat menerapkan ilmu yang diberikan, menyebarkannya kepada lingkungan sekitar, dan menjadi agen perubahan dalam membangun budaya hidup sehat serta kesiapsiagaan bencana,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan PkM ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat, sehingga dapat mewujudkan komunitas yang sehat, tangguh, dan siap menghadapi berbagai risiko. (wdy)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |