Legislator Senayan Pantau Produksi Ribuan Porsi Gizi di Sukabumi

5 hours ago 5
SIDAK: Anggota Komisi II DPR RI, Heri Gunawan, saat inspeksi mendadak di SPPG 01 Mangkalaya, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Senin (04/05) malam.

SUKABUMI – Malam hari yang biasanya menjadi waktu istirahat warga, justru berubah menjadi puncak kesibukan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Mangkalaya, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Di bawah cahaya lampu neon, kepulan uap dari kuali besar memenuhi ruangan, menandai ribuan porsi makanan bergizi tengah diproduksi.

Anggota Komisi II DPR RI, Heri Gunawan, melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk menelisik anatomi program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Tidak hanya meninjau hasil akhir, Hergun memeriksa detail proses mulai dari bahan baku hingga pengelolaan limbah.

“Kita ingin semua transparan agar program yang bagus ini benar-benar dirasakan manfaatnya. Relawan, struktural partai, hingga masyarakat umum dilibatkan untuk melihat langsung proses memasak dan kebersihan dapur,” ujar Hergun kepada Radar Sukabumi, Selasa (05/05) malam.

Fokusnya tertuju pada ekonomi kerakyatan. Ia menekankan bahwa bahan pangan yang digunakan, seperti daging sapi, jagung, dan tahu, berasal dari produsen lokal sekitar dapur.

“Terjadi simbiosis saling menguntungkan. Ekonomi lokal tumbuh, masyarakat merasakan manfaat, dan pertumbuhan lebih merata,” tambahnya.

Ketua Yayasan Tidar Biru Sejahtera sekaligus mitra SPPG Mangkalaya 01, Sayyid Agil, menegaskan dapur ini pionir di Kecamatan Gunungguruh.

“Kami melibatkan 50 tenaga kerja, 90 persen warga lokal. Dua head chef bersertifikat BNSP, serta sertifikasi lengkap mulai dari laik higiene, halal, ISO, OHSAS, hingga HACCP,” jelasnya.

SPPG Mangkalaya setiap hari melayani 2.857 penerima manfaat, mulai dari siswa TK, SD, hingga ibu hamil, menyusui, dan balita. Tantangan terbesar, menurut Sayyid, justru datang dari dinamika sosial di media digital.

“Orang tua kadang mengkritik di media sosial tanpa solusi. Kami terus membangun komunikasi dengan sekolah agar masukan tertulis bisa ditindaklanjuti. Faktanya, tidak ada penerima manfaat yang pindah dapur, malah banyak yang ingin bergabung,” tuturnya.

Sidak malam itu menjadi pengingat bahwa di balik sepiring nasi bergizi bagi anak sekolah, ada rantai pasok panjang, kerja keras warga lokal, dan standar ketat yang dijaga demi masa depan generasi bangsa.(den/d)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |