Terikis Luapan Sungai Cibeureum, Longsor Baros Nyaris Telan 3 Rumah dan Masjid!

2 hours ago 6
 Sejumlah petugas BPBD Kota Sukabumi, saat melakukan peninjauan di di Jalan Garuda, Kampung Caringin, RT 02/RW 18, Kelurahan Baros, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, Selasa (18/8).PENINJAUAN: Sejumlah petugas BPBD Kota Sukabumi, saat melakukan peninjauan di di Jalan Garuda, Kampung Caringin, RT 02/RW 18, Kelurahan Baros, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, Selasa (18/8).

RADARSUKABUMI.COM – Hujan dengan intensitas tinggi kembali menjadi perhatian warga di sejumlah wilayah Kota Sukabumi. Salah satunya di Jalan Garuda, Kampung Caringin, RT 02/RW 18, Kelurahan Baros, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, yang memiliki titik rawan longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Yoseph Sabaruddin mengatakan, BPBD saat ini menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai kondisi tanah yang dinilai berpotensi mengalami longsor, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut. “Saat ini kami menindaklanjuti laporan dari warga terkait lokasi rawan longsor yang berlokasi di Jalan Garuda,” kata Yoseph kepada Radar Sukabumi, Selasa (18/8).

Berdasarkan hasil koordinasi petugas BPBD dengan pihak RW setempat, kondisi tanah di lokasi memang cukup mengkhawatirkan. Ancaman tersebut, semakin meningkat ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan debit aliran Sungai Cibeureum mengalami peningkatan. Aliran sungai yang meluap disebut menyebabkan tanah di sekitar bantaran mengalami pengikisan secara perlahan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, struktur tanah dikhawatirkan semakin kehilangan kekuatannya dan berpotensi memicu terjadinya longsor. “Setiap intensitas hujan tinggi dan aliran Sungai Cibeureum meluap, tanah tersebut mengalami pengikisan sehingga rawan terjadinya longsor,” ujarnya.

Kondisi itu, bukan sekadar mengancam lahan kosong. Berdasarkan informasi yang diterima BPBD dari pihak RW, sedikitnya tiga unit rumah warga berada di sekitar area yang terancam terdampak apabila longsor terjadi. Selain rumah warga, satu bangunan masjid juga disebut berada dalam wilayah yang perlu mendapat perhatian. “Keberadaan bangunan dan permukiman tersebut membuat potensi pergerakan tanah harus diwaspadai, terlebih saat hujan deras terjadi dalam waktu cukup lama,” paparnya.

Pihak RW, lanjut Yoseph, sebelumnya juga telah mengajukan kondisi lokasi tersebut kepada dinas terkait. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mencari penanganan lebih lanjut terhadap kawasan yang dinilai membutuhkan perhatian. “Kami kemudian melakukan pengecekan lapangan untuk melihat secara langsung kondisi tanah serta lingkungan di sekitar titik rawan tersebut. Dalam pelaksanaannya, tim turut didampingi oleh pihak Kelurahan Baros,” bebernya.

Dari hasil pemantauan sementara, luas area yang terdampak atau perlu mendapat perhatian diperkirakan mencapai sekitar 8 x 20 meter persegi. Area tersebut menjadi salah satu titik yang perlu diantisipasi, khususnya ketika curah hujan meningkat. “Sebanyak enam petugas lapangan diterjunkan untuk melakukan pemantauan dan penanganan awal. Kehadiran petugas di lokasi sekaligus memastikan informasi yang disampaikan warga dapat segera ditindaklanjuti dan kondisi lapangan dapat dipetakan,” cetusnya.

BPBD juga mengingatkan masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar lokasi agar meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras berlangsung. Tanda-tanda seperti munculnya retakan tanah, perubahan posisi tanah, suara gemuruh, hingga pergeseran pada bangunan perlu menjadi perhatian. Warga yang berada di sekitar titik rawan juga diharapkan tidak mengabaikan kondisi lingkungan, terutama ketika hujan turun dalam waktu lama. Sebab, pengikisan tanah yang terjadi secara bertahap dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah.

“Kami melakukan pemantauan di lokasi dan berkoordinasi dengan pihak kewilayahan untuk memastikan kondisi serta langkah penanganan selanjutnya,” imbuhnya.

Penanganan terhadap kawasan rawan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas kebencanaan. Koordinasi antara pemerintah, kewilayahan dan masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah risiko yang lebih besar. Terlebih, lokasi tersebut berada di sekitar aliran sungai yang berpotensi mengalami peningkatan debit ketika hujan deras. “Kondisi tanah yang terus terkikis harus menjadi perhatian bersama agar ancaman longsor dapat diantisipasi sedini mungkin,” ulasnya.

Pihaknya terus mendorong masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan perubahan kondisi tanah maupun tanda-tanda bencana di lingkungan masing-masing. Respons cepat masyarakat dinilai penting untuk memperkecil potensi korban dan kerugian apabila terjadi bencana. “Dengan kondisi tiga rumah warga dan satu masjid yang disebut berada dalam ancaman, kewaspadaan menjadi kunci. Hujan yang datang bukan hanya membawa air, tetapi juga dapat menguji ketahanan tanah di kawasan yang memiliki kerentanan,” pungkasnya. (bam)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |