Bicara Etika AI di UM Bandung, Atalia Ingatkan Mahasiswa Tetap Kritis

3 hours ago 6
SEREMONIAL: Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya menerima cinderamata dari pihak UM Bandung, Jumat (21/8). FOTO: ISTIMEWA

BANDUNG —Kecerdasan buatan (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi ini digunakan untuk membantu bekerja, belajar, mencari informasi, hingga mendukung pengambilan keputusan.

Namun, di balik berbagai kemudahannya, penggunaan AI tetap membutuhkan sikap kritis dan etika. Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya mengingatkan agar masyarakat tidak sampai bergantung sepenuhnya pada teknologi.

Hal itu disampaikan Atalia saat menjadi pembicara kunci dalam Workshop Riset di Era AI: Strategi Riset dan Etika Akademik bagi Mahasiswa PTKI di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Bandung, Kamis (20/8/2026).

Menurut Atalia, perkembangan AI berlangsung sangat cepat dan kini telah masuk ke berbagai bidang, termasuk kesehatan.

Ia mencontohkan masyarakat yang mulai menggunakan AI untuk mencari informasi mengenai penyakit dan obat sebelum berkonsultasi dengan dokter.

“Bahkan ada yang sebelum berobat ke dokter berinteraksi dulu dengan AI mengenai penyakit dan perkiraan obatnya,” kata Atalia.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan betapa mudahnya masyarakat mengakses teknologi AI. Berbagai platform seperti Gemini, ChatGPT, Claude, dan Perplexity bahkan dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama.

AI, misalnya, bisa digunakan untuk merangkum jurnal, buku, surat elektronik, hingga mencari dan mengolah berbagai informasi. Karena mudah diakses dan relatif murah, teknologi ini pun semakin akrab dengan masyarakat.

“Melihat fenomena AI hari ini, seakan-akan manusia tersisihkan. AI sudah menjadi teman akrab sehari-hari. Mereka juga ternyata bisa menjadi teman mengobrol,” ujarnya.

Meski menawarkan banyak kemudahan, Atalia mengingatkan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan. Teknologi tersebut tidak memiliki emosi, keteladanan, dan nilai-nilai kemanusiaan seperti yang dimiliki manusia.

AI juga tidak selalu memberikan jawaban yang benar. Ketika data yang digunakan tidak memadai, AI bisa menghasilkan informasi yang keliru atau bahkan mengarang jawaban.

“AI bisa berbohong. Dia seperti gengsi mengatakan tidak tahu terhadap pertanyaan yang kita ajukan. Dia bisa mengarang-ngarang saja,” katanya.

Oleh karena itu, Atalia meminta mahasiswa dan masyarakat tidak langsung mempercayai setiap informasi yang dihasilkan AI. Hasil dari AI perlu diperiksa, dibandingkan dengan sumber lain, dan dipertimbangkan kembali sebelum digunakan.

“AI hanya alat dan teman diskusi untuk bertukar ide. Hasil AI tentu tidak bisa dilaksanakan seratus persen. Penggunaan harus disertai dengan etika,” tegasnya.

Atalia juga mendorong masyarakat untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Termasuk menghadapi munculnya teknologi yang semakin canggih seperti super AI.

Di lingkungan perguruan tinggi, dosen juga perlu terus meningkatkan kemampuan agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan karakter mahasiswa saat ini.

Menurut Atalia, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan etika, agama, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. AI boleh semakin pintar, tetapi manusia tetap harus menjadi pihak yang menentukan arah dan mengambil keputusan. “AI tidak menggantikan akal dan kreativitas manusia,” ujarnya.

Atalia pun mengapresiasi UM Bandung yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan AI sekaligus mendiskusikan riset dan etika akademik. Ia berharap kegiatan semacam itu terus dikembangkan melalui kolaborasi yang konstruktif.

Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto mengatakan workshop tersebut memberikan wawasan penting bagi mahasiswa, terutama terkait penggunaan AI dalam kegiatan penelitian.

Menurut Herry, perkembangan AI membuat pemahaman mengenai panduan dan etika penggunaannya semakin penting bagi sivitas akademika.

Oleh karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan agar mahasiswa tidak hanya mampu memanfaatkan AI. Namun, memahami batas dan tanggung jawab dalam penggunaannya. (*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |