Lapas Sukabumi Sulap Lahan Sempit Jadi Ladang Harapan

10 hours ago 9
Warga binaan Lapas Kelas IIB Sukabumi memanen sayuran pakcoy hasil budidaya hidroponik.

SUKABUMI – Suasana berbeda terlihat di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sukabumi. Di balik tembok tinggi dan area yang serba terbatas, hamparan hijau sayuran pakcoy tumbuh subur melalui sistem hidroponik yang dikelola warga binaan.

Kegiatan panen perdana sayuran hidroponik tersebut kembali dilaksanakan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan pihak lapas.

Program budidaya hidroponik ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk menciptakan sesuatu yang produktif dan bermanfaat.

Dengan memanfaatkan area brandgang atau lorong sempit di lingkungan lapas, berbagai instalasi hidroponik berhasil dibangun dan menghasilkan sayuran segar berkualitas.

Kegiatan panen dihadiri langsung Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi, Budi Hardiono, beserta jajaran pejabat struktural, staf pembinaan, serta warga binaan yang aktif mengikuti program pertanian hidroponik.

“Program budidaya hidroponik bukan semata-mata mengejar hasil panen, tetapi lebih jauh menjadi sarana pembentukan karakter dan keterampilan warga binaan,” ungkap Budi Hardiono kepada Radar Sukabumi.

Melalui proses bercocok tanam, warga binaan diajarkan tanggung jawab, disiplin, kerja sama, serta pentingnya memanfaatkan waktu secara positif. Panen ini menjadi bukti bahwa pembinaan di Lapas Sukabumi berjalan konsisten dan produktif.

“Kami mendorong warga binaan untuk memanfaatkan lahan terbatas seperti area brandgang menjadi sarana yang bernilai guna,” ujarnya.

Program hidroponik diharapkan menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat. Dengan kemampuan yang dimiliki, mereka diharapkan mampu membuka peluang usaha mandiri dan menjalani kehidupan lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.

“Tidak mudah mengubah area sempit menjadi lahan produktif. Dibutuhkan ketelatenan, perawatan rutin, serta semangat kebersamaan agar tanaman tumbuh maksimal. Namun keterbatasan itulah yang justru memacu kreativitas jajaran Lapas Sukabumi untuk terus berinovasi,” paparnya.

Rak-rak hidroponik yang tersusun di area brandgang kini menjadi pemandangan menarik di dalam lapas. Aliran air nutrisi yang terus bersirkulasi membuat tanaman pakcoy tumbuh segar meski ditanam di ruang terbatas tanpa media tanah.

Program ini juga menjadi implementasi nyata dari Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, serta sejalan dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026.

Pelaksanaan program turut diperkuat melalui 21 arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Drs. Mashudi, serta dukungan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Kusnali.

Warga binaan mendapatkan pengalaman baru mulai dari penyemaian bibit, pencampuran nutrisi, pemantauan pertumbuhan tanaman, hingga proses panen dengan pendampingan petugas lapas.

Menurut Budi, kegiatan bercocok tanam membuat warga binaan lebih produktif dan memiliki aktivitas positif selama masa pembinaan. Selain mendukung ketahanan pangan, hasil panen hidroponik juga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sayuran sehat di lingkungan lapas.

“Sayuran yang dihasilkan dinilai lebih higienis dan berkualitas karena dirawat secara intensif,” tambahnya.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembinaan dan pembelajaran kehidupan. Ke depan, Lapas Kelas IIB Sukabumi berencana menambah jenis tanaman hidroponik untuk memperluas keterampilan warga binaan sekaligus meningkatkan produktivitas pemanfaatan lahan sempit.

“Dari lorong sempit di balik jeruji, tumbuh harapan besar tentang kemandirian, perubahan, dan masa depan yang lebih baik,” tutupnya.(bam/d)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |