
SUKABUMI – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi (STIKesmi) kembali mengukir prestasi membanggakan di dunia pendidikan kesehatan. Pada Tahun Akademik 2025/2026, Program Studi D3 Kebidanan dan Sarjana Profesi Kebidanan STIKes Sukabumi berhasil meluluskan 100 persen mahasiswanya dalam Uji Kompetensi (Ujikom) Nasional.
Dari total peserta yang mengikuti ujian nasional tersebut, sebanyak 32 lulusan berasal dari Program Studi D3 Kebidanan dan 56 lulusan dari Program Studi Profesi Bidan. Semuanya dinyatakan lulus penuh dan kompeten.
Ketua STIKes Sukabumi, Iwan Permana, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas pencapaian luar biasa ini. Menurutnya, keberhasilan meraih predikat kelulusan sempurna tak lepas dari berbagai program kerja terstruktur serta kesiapan sarana dan prasarana berbasis digital yang dimiliki institusi.
“STIKesmi menerapkan serangkaian program intensif, mulai dari pembekalan dan pengkayaan materi, hingga pelaksanaan try out lokal berbasis digital sebanyak 2 sampai 4 kali latihan. Dosen-dosen sesuai bidang kepakarannya juga aktif memberikan referensi materi berbasis kasus sebagai bahan belajar mahasiswa,” ujar Iwan.
Ia menambahkan, keberhasilan ini didukung penuh oleh seluruh civitas akademika, baik tenaga kependidikan maupun dosen. Kampus STIKesmi memfasilitasi proses pembelajaran dan try out menggunakan aplikasi sistem digital milik sendiri. Di sisi lain, peran dosen difokuskan pada penguatan pembelajaran kasus asuhan kebidanan di lapangan.
“Kurikulum di D3 maupun Profesi Bidan sudah berbasis Outcome-Based Education (OBE), mencakup kurikulum inti dan institusi yang selaras dengan visi-misi lembaga serta arah pembangunan nasional. Kelulusan 100 persen ini bukan hanya hasil belajar di kelas, tetapi juga buah dari pengalaman nyata selama praktik lapangan di fasilitas pelayanan kesehatan (faskes). Pengalaman ini sangat relevan dengan soal-soal kasus yang diujikan dalam ujikom,” jelasnya.
Terkait prospek lulusan, Iwan menegaskan bahwa para alumni memiliki peluang kerja yang sangat luas, baik di dalam maupun luar negeri. Bagi lulusan D3 Kebidanan, peluang sebagai asisten di layanan kesehatan kebidanan masih sangat dibutuhkan, serta terbuka kesempatan bekerja di luar negeri sebagai caregiver. Sementara bagi lulusan S1 Profesi Bidan, mereka mengantongi lisensi resmi untuk membuka Praktik Mandiri Bidan (PMB) atau bekerja di berbagai instansi pelayanan kesehatan.
Ke depan, pihak lembaga berkomitmen untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Langkah strategis yang disiapkan meliputi peningkatan kualifikasi pendidikan dosen ke jenjang S3 (Doktor) serta pembaruan (upgrade) laboratorium kebidanan agar selalu relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kebahagiaan mendalam dirasakan oleh seluruh lulusan, salah satunya Setia Darmawati, bidan yang bertugas di Puskesmas Cicantayan, Kabupaten Sukabumi. Mewakili rekan-rekannya, Setia menceritakan detik-detik saat menerima pengumuman kelulusan.
“Perasaan saya setelah tahu lulus uji kompetensi nasional jelas sangat bahagia sekali, bahkan sampai menangis terharu dan langsung sujud syukur. Pengumuman ini sangat kami tunggu-tunggu. Dari pagi hari pengumuman hati saya terus deg-degan karena merasa insecure takut tidak lulus,” tutur Setia.
Bagi Setia, lulus ujikom nasional bukanlah perkara mudah. Di usianya yang sudah berada di atas 40 tahun, ia harus menghadapi tantangan fisik dan membagi konsentrasi secara intensif.
“Tantangan tersulit adalah membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan melayani pasien. Di usia saya yang sudah 40 tahun lebih, faktor daya ingat menjadi tantangan tersendiri. Padahal materi yang harus dipelajari sangat banyak dan soal-soal ujikom berbentuk narasi kasus yang panjang sehingga butuh analisis serta kejelian tinggi,” ungkapnya.
Namun, kendala tersebut berhasil diatasi berkat metode belajar yang diterapkan STIKesmi serta trik belajar mandiri yang diciptakannya. Grup pengkayaan dan try out internal yang diselenggarakan kampus sangat membantu mahasiswa agar terbiasa menghadapi karakteristik soal ujikom nasional.
“Kalau belajar sendiri sering mengantuk dan bosan, tapi dengan adanya grup pengkayaan dari kampus, kami jadi bersemangat karena dibimbing langsung oleh dosen. Selain itu, materi yang sulit saya ingat, saya tulis di kertas-kertas kecil lalu ditempel di meja kerja, cermin, dan tempat-tempat yang sering saya duduki di rumah. Jadi setiap kali lewat atau duduk, otomatis terbaca,” bebernya penuh semangat.
Setia juga memuji dedikasi para dosen STIKes Sukabumi yang mendampingi mahasiswa dengan pendekatan penuh kekeluargaan. Menurutnya, dosen tidak hanya tekun memberikan pengkayaan materi, tetapi juga selalu menjadi sumber motivasi saat mahasiswa merasa cemas.
“Dosen-dosen di STIKesmi menganggap kami seperti sahabat. Kami bisa bebas berkonsultasi dan curhat tentang kesulitan menghadapi ujikom nasional. Saya merasa sangat beruntung dan tidak salah pilih kampus,” tambahnya.
Usai dinyatakan lulus dan kompeten, Setia yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan S2 Kebidanan di Bandung berkomitmen untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Sukabumi.
“Untuk teman-teman atau masyarakat yang ingin kuliah di bidang kesehatan, khususnya di wilayah Sukabumi, tidak perlu jauh-jauh ke luar kota. Di daerah kita ada kampus luar biasa seperti STIKesmi—biayanya terjangkau, fasilitasnya lengkap, serta dosen-dosennya sangat kompeten dan peduli,” pungkas Setia.(wdy)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554154/original/075633800_1776061310-KAI_Acces.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566130/original/037654700_1777115193-Nnicgi2v3KAezF9tDS92s4.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557540/original/022217200_1776334209-1_-_HUAWEI_Mate_80_Pro.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)



