Dahlan Iskan
Oleh: Dahlan Iskan
Di depan gerai Cap Tikus saya disalami seorang penumpang yang akan satu pesawat menuju Makassar. Kami sama-sama mengejar penerbangan paling pagi. Saya transit ke Surabaya, ia ke Bali.
Sampai basa-basi selesai, saya masih belum ingat namanya meski wajahnya familiar. Konsentrasi saya memang tertuju ke gerai Cap Tikus.
Gerai itu membuat saya terpana. Elegan, berkelas, jauh dari kesan “kampungan” yang dulu melekat pada Cap Tikus. Kini minuman keras lokal itu punya wajah baru: masuk bursa saham sejak 2023, sejajar dengan produk internasional.
“Nama saya De Yong,” ujarnya. Ia orang Toraja, tinggal di Bali, pengacara sekaligus pebisnis. Lalu ia mengenalkan temannya dari Inggris.
Saya pun bersalaman dengan pria itu. Namanya Heston Harper, yang lebih suka dipanggil Double H. Ia pengusaha energi hijau, pendiri Gigatons, perusahaan charging station mobil listrik dengan 300 lokasi di Inggris.
Yang menarik, Double H sudah 15 tahun menetap di Bali. “Lima anak saya semua lahir di Bali,” katanya. Istrinya bukan orang Indonesia, melainkan perempuan asal Afrika Selatan. Mereka bertemu pertama kali di Thailand.
“Hati saya Indonesia. Saya cinta Indonesia,” ujarnya sambil menepuk dada.

—
Dari Solar Cell ke Charging Station
Double H pernah mencoba merintis bisnis solar cell di Indonesia. Logikanya sederhana: Inggris yang miskin matahari saja bisa sukses, apalagi Indonesia yang kaya cahaya. Namun birokrasi dan regulasi membuatnya menyerah setelah lima tahun.
Di Inggris, bisnisnya justru berkembang pesat. Gigatons membangun charging station dengan pasokan listrik dari solar farm milik sendiri. Sistem transmisi swasta memungkinkan mereka membeli kapasitas jaringan dan menyalurkan listrik ke stasiun pengisian.
“Sekarang ada 3 juta mobil listrik di Inggris,” katanya. Awalnya sulit, tapi setelah penetrasi mencapai 5 persen, pertumbuhan melonjak. Kini neraca perusahaan sudah biru.
—
Jejak Masa Kecil
Kecintaannya pada laut berawal dari masa kecil di Uni Emirat Arab. Ayahnya bangkrut akibat krisis minyak 1973, lalu jatuh cinta pada teknologi solar cell. Rumah keluarga di Ras Al Khaimah bahkan menjadi rumah pertama yang menggunakan tenaga surya.
Ayahnya melihat peluang: sambungan pipa minyak di gurun pasir membutuhkan listrik. Solar cell menjadi solusi. Dari situlah bisnis keluarga berkembang. Generasi kedua, termasuk Double H, melanjutkan dengan fokus pada mobil listrik.(*)




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558276/original/056214800_1776411094-unnamed__30_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293547/original/038576300_1783733711-roster_taman_3.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8336552/original/022857800_1782207398-pexels-minan1398-1441593.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7834712/original/073504000_1780655454-AMJ_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7746836/original/040565800_1780554499-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261860/original/079137400_1781760927-9179005499397205708.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256422/original/061879900_1781157874-pohon_buah_di_sawah.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8047663/original/032394000_1780890718-7039489f-a3c7-45bd-ba19-1e84522ef9c9.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5564871/original/061974900_1777003092-kelengkeng.jpg)