RADARSUKABUMI.COM – Perpustakaan Umum Kota Sukabumi kini tak sekadar menjadi tempat membaca dan meminjam buku. Di bawah pengelolaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Sukabumi, perpustakaan dikembangkan sebagai ruang belajar, berdiskusi hingga mengasah keterampilan masyarakat.
Pustakawan Ahli Madya Dispusipda Kota Sukabumi, Retno Widayani mengatakan, perpustakaan yang berada di Jalan Perpustakaan Nomor 3 tersebut saat ini memiliki koleksi lebih dari 80 ribu eksemplar buku dengan sekitar 40 ribu judul. “Paling ramai itu (pengunjungnya) di hari Sabtu,” kata Retno kepada Radar Sukabumi, Jumat (18/9).
Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, perpustakaan dilengkapi sejumlah fasilitas, mulai dari ruang baca umum, ruang baca anak, ruang sinema, area diskusi, ruang referensi hingga layanan multimedia. Pengunjung juga dapat memanfaatkan komputer yang terhubung dengan jaringan internet untuk mengakses berbagai sumber literasi secara daring. “Tak hanya itu, tersedia pula ruang work from library yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk bekerja atau menyelesaikan berbagai aktivitas secara lebih nyaman,” ujarnya.
Perpustakaan Umum Kota Sukabumi buka Senin hingga Jumat mulai pukul 08.30 sampai 16.00 WIB. Sementara pada Sabtu, layanan dibuka lebih panjang, yakni pukul 09.00 hingga 19.00 WIB.
Layanan literasi Dispusipda juga diperluas ke ruang publik. “Salah satunya melalui Galeri Literasi di kawasan Lapangan Merdeka dan Alun-alun Kota Sukabumi yang dibuka setiap Sabtu dan Minggu pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Selain itu, terdapat Pojok Baca Digital (Pocadi) di Mal Pelayanan Publik,” paparnya.
Selain itu, Dispusipda juga menyediakan sejumlah layanan berbasis digital. Masyarakat dapat membuat kartu anggota perpustakaan secara online melalui website Dispusipda. Untuk membaca buku secara digital, tersedia pula aplikasi e-book berbasis Android bernama Sugema. Sementara bagi anak-anak, Dispusipda menghadirkan program Cendol atau Cerita dan Dongeng Online melalui kanal YouTube. Program tersebut telah berjalan sejak masa pandemi Covid-19 dan kini sudah mendekati 300 episode. “Kita sudah menayangkan hampir 300 episode, itu dimulai sejak zaman pandemi Covid-19. Setiap seminggu sekali ada yang baru, ini layanan bercerita untuk anak-anak,” ungkapnya.
Menurut Retno, pengembangan perpustakaan juga diarahkan pada penerapan inklusi sosial. Salah satunya melalui berbagai pelatihan keterampilan yang digelar di perpustakaan, sehingga pengetahuan yang diperoleh masyarakat dari buku dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Perpustakaan itu sekarang tidak hanya tempat membaca, tetapi menjadi pusat berkegiatan. Inklusi itu untuk semua, jadi kita bisa menjadikan apa yang ada di dalam buku, dipraktikkan kalau bisa sampai mensejahterakan diri kita, dari yang belum berdaya menjadi berdaya, bahkan sampai menciptakan lapangan pekerjaan baru,” tandasnya. (Bam)







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293547/original/038576300_1783733711-roster_taman_3.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558276/original/056214800_1776411094-unnamed__30_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8336552/original/022857800_1782207398-pexels-minan1398-1441593.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7834712/original/073504000_1780655454-AMJ_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7746836/original/040565800_1780554499-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8261860/original/079137400_1781760927-9179005499397205708.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256422/original/061879900_1781157874-pohon_buah_di_sawah.jpeg)