Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Kokoh di Tengah Ketidak Pastian Global

8 hours ago 6
ILUSTRASI

JAKARTA — Di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global akibat ketegangan geopolitik dan fragmentasi rantai pasok dunia, perekonomian Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan kokoh sekaligus momentum emas untuk membangun fondasi pertumbuhan ekonomi baru.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menegaskan, bahwa kuncinya terletak pada penguatan stabilitas makroekonomi nasional yang harus berjalan beriringan dengan akselerasi sumber-sumber pertumbuhan baru agar Indonesia mampu adaptif merespons dinamika lanskap internasional.

“Pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memperkuat pilar-pilar pertumbuhan ekonomi baru di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi dan tensi geopolitik internasional,” ujar Destry.

Menurut dia, guna menghadapi perubahan tersebut, Bank Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) serta konektivitas sistem pembayaran lintas negara.

Upaya itu mencakup perluasan integrasi pembayaran berbasis QR antarnegara di antara seluruh anggota aliansi BRICS.

Penguatan kerja sama keuangan lintas negara tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan dan investasi.

Inisiatif tersebut juga diarahkan untuk meredam dampak ketidakpastian ekonomi global dan mendorong terbentuknya kerja sama keuangan yang lebih konkret.

Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru.

Diversifikasi investasi, manufaktur, dan rantai pasok global menjadi faktor yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperbesar peran ekonominya.

“Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi,” ujarnya.

Menurut Radhika, perubahan konfigurasi ekonomi global membuat negara-negara berlomba membangun rantai pasok yang lebih beragam dan tahan terhadap berbagai gangguan.

Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki ruang untuk meningkatkan nilai tambah industri domestik, memperluas investasi berbasis teknologi, serta memperkuat konektivitas ekonomi digital.

Penguatan stabilitas makroekonomi, diversifikasi sumber pertumbuhan, dan kerja sama ekonomi lintas negara menjadi sejumlah faktor penting bagi Indonesia untuk mempertahankan ketahanan ekonomi sekaligus menangkap peluang dari perubahan struktur perekonomian global. (*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |