Puluhan Siswa dan Guru di Simpenan Keracunan MBG 

4 hours ago 3

“Puluhan siswa dan guru di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, harus mendapat perawatan medis setelah diduga keracunan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dugaan awal mengarah pada tahu goreng berjamur yang dikonsumsi penerima manfaat.”

Naskah Hasil Edit
SIMPENAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semestinya mendukung kesehatan anak sekolah justru menimbulkan insiden keracunan. Puluhan siswa dan guru di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, harus menjalani perawatan medis setelah mengonsumsi menu MBG yang diduga berjamur.

Peristiwa terjadi pada Rabu (28/1/2026) dan berlanjut hingga dini hari. Laporan P2BK Simpenan mencatat sedikitnya 22 orang mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG di SDN Bojong Kopo dan PAUD Al-Hadi, Desa Loji.

“Korban mulai berdatangan ke IGD Puskesmas Simpenan sejak siang hingga tengah malam,” ujar Dandi Sulaeman dari P2BK Simpenan.

Pengecekan medis dilakukan di UPTD Puskesmas Simpenan pada Kamis (29/1/2026) dini hari. Dari total korban, 17 orang sudah diperbolehkan pulang, satu orang masih dalam observasi, sementara enam lainnya dirujuk ke RSUD untuk penanganan lanjutan.

Menu MBG yang dikonsumsi terdiri dari nasi putih, nugget, sayuran, jeruk, dan tahu goreng. Dugaan awal mengarah pada tahu goreng yang diduga berjamur sebelum dikonsumsi. Korban berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa SD, guru PAUD, guru sekolah dasar, hingga wali murid, dengan keluhan mual, muntah, pusing, diare, sesak napas, hingga demam.

Kepala Puskesmas Simpenan, Ade Setiawan SKM, menjelaskan pasien pertama datang sekitar pukul 12.00 WIB dengan keluhan mual, muntah, dan diare. Jumlah pasien terus bertambah hingga malam hari.

Melihat kondisi tersebut, puskesmas berkoordinasi dengan lintas sektor dan membentuk posko penanganan 24 jam. Tim Tanggap Gerak Cepat (TGC) diterjunkan untuk investigasi ke dapur SPPG Loji. Sampel makanan berupa nasi, nugget, tahu goreng, tumis wortel buncis, dan jeruk diamankan untuk pemeriksaan laboratorium.

Selain itu, tim surveilans juga melakukan penyelidikan epidemiologi ke sekolah terdampak. MBG diketahui diterima sekolah sekitar pukul 08.00 WIB dan dibagikan setengah jam kemudian. Gejala awal mulai dirasakan siswa sekitar pukul 11.00 WIB.

Asisten Lapangan SPPG Loji, Yanyan Sugiyanto, mengakui adanya kelalaian dan menyampaikan permohonan maaf. “Kami bertanggung jawab atas kejadian ini. Begitu ada laporan tahu berjamur, kami instruksikan agar makanan tidak dikonsumsi dan menarik kembali distribusi terakhir,” ujarnya.

Yanyan menegaskan dapur SPPG Loji memiliki tenaga ahli gizi bersertifikat, namun tidak menampik adanya kelalaian dalam pengawasan bahan pangan. “Tahu berasal dari supplier dalam kondisi matang. Di dapur hanya dilakukan pengemasan, tidak ada pengolahan ulang,” jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, investigasi masih berlangsung. Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan akan menentukan penyebab pasti insiden yang menggegerkan warga Simpenan.(ndi/d)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |