Kepala BKPSDM Kota Sukabumi, Taufik Hidayah, saat memberikan keterangan terkait evaluasi WFH Jumat.
SUKABUMI – Pelaksanaan work from home (WFH) setiap Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi masih dalam tahap evaluasi. Hingga memasuki bulan pertama penerapan, efisiensi yang diharapkan dari sisi pengeluaran operasional belum terlihat signifikan.
Kepala BKPSDM Kota Sukabumi, Taufik Hidayah, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan laporan evaluasi yang diminta Kementerian PANRB melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Data yang dikumpulkan meliputi penggunaan listrik, bahan bakar, air, hingga bukti fisik pendukung dari masing-masing perangkat daerah.
“Kalau melihat draf awal, memang belum kelihatan efisiensinya. Bahkan untuk listrik sementara ini angkanya masih sama, malah ada yang sedikit lebih besar dibanding sebelumnya. Tapi ini belum bisa disimpulkan karena datanya masih dikumpulkan dan perlu dibandingkan lagi di bulan berikutnya,” ujarnya kepada Radar Sukabumi.
Menurutnya, pembacaan angka belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil karena ada kemungkinan tagihan bulan sebelumnya baru dibayarkan pada bulan berikutnya. Selain itu, aktivitas kantor seperti pelatihan tatap muka juga memengaruhi konsumsi listrik.
“Contohnya kalau ada pelatihan dua hari penuh di kantor, otomatis konsumsi listrik naik. Jadi sekarang belum bisa dibaca utuh. Nanti evaluasi bulan kedua baru akan lebih terlihat polanya,” jelasnya.
Meski efisiensi anggaran belum tampak, Taufik memastikan penerapan WFH sejauh ini tidak mengganggu target kerja ASN. Ia menilai disiplin pegawai tetap berjalan karena setiap pekerjaan dipantau langsung dan harus diselesaikan sesuai target. Sebagai contoh, salah satu pegawai BKPSDM berhasil menyelesaikan pendataan pegawai dari eselon II hingga honorer dalam satu hari kerja penuh dari rumah.
“Saya pantau langsung lewat video call sejak pagi. Jam 07.30 sudah mulai bekerja, sore saya cek lagi masih dikerjakan, dan sekitar pukul 15.00 selesai. Bahkan file-nya diberi judul ‘Target Kerja WFH’. Artinya output kerja tetap ada dan kedisiplinan tidak hilang,” katanya.
Ia menegaskan, pelayanan ASN selama penerapan WFH Jumat juga tidak mengalami pengurangan. Skema kerja dari rumah hanya diberlakukan satu hari dalam sepekan, sementara empat hari lainnya pegawai tetap bekerja dari kantor.
“Kalau WFH-nya dua hari mungkin efeknya lebih signifikan. Tapi ini hanya Jumat. Jadi target kerja kami anggap tetap sama. Tidak boleh ada yang berkurang. Yang penting pekerjaan selesai dan pegawai tetap bisa dipantau,” tegasnya.
Saat ini BKPSDM masih menunggu data lanjutan dari sejumlah perangkat daerah untuk melengkapi laporan evaluasi.
“Jadi nanti hasil bulan kedua akan menjadi gambaran yang lebih akurat untuk melihat sejauh mana kebijakan WFH Jumat berdampak terhadap efisiensi operasional maupun pola kerja ASN di Kota Sukabumi,” tandasnya.(ris/d)






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5503087/original/002679900_1771083848-Dancow_Indonesia_Cerdas_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515320/original/063647700_1772170133-dokumentasi.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494340/original/092829300_1770285248-0L5A4829.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500165/original/009970600_1770817333-1280x847.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488958/original/047378200_1769771965-NEKA_siap_layani_masyarakat_Indonesia__1_.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499706/original/078212800_1770792664-IMG-20260211-WA0021.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506058/original/065830100_1771404527-WhatsApp_Image_2.jpg.jpeg)


