Oleh: Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Ramadan bukan sekadar perlombaan untuk memulai, melainkan ujian dalam mengakhiri. Sisa hari-hari terakhir ini adalah kesempatan emas untuk menjadikan akhir Ramadan lebih baik daripada awalnya. Inilah momen krusial untuk membuktikan kejujuran iman kita di hadapan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari). Jika di awal Ramadan kita merasa kurang maksimal, maka hari-hari terakhir ini adalah kesempatan untuk menebus kekurangan. Saatnya menegakkan perintah Allah dalam diri, keluarga, dan rumah tangga, agar kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya benar-benar merajai hati.
Sisa Ramadan memiliki hak yang lebih besar atas kita. Hak tilawah Al-Qur’an, karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Di penghujungnya, interaksi kita dengan kalamullah harus semakin intens, sebagaimana firman Allah: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah: 185). Hak kekhusyukan, karena shalat malam di akhir Ramadan bukan sekadar berdiri, tetapi menghadirkan hati. Inilah sarana utama meraih ampunan. Hak penjagaan puasa, karena puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga diri dari penyakit hati dan lisan. Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad).
Namun fenomena yang sering disayangkan adalah berpindahnya perhatian umat dari masjid ke pasar menjelang Idul Fitri. Padahal sepuluh malam terakhir adalah waktu paling berharga. Allah SWT memuji orang-orang yang tidak lalai oleh perniagaan: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat…” (QS. An-Nur: 37). Sungguh kontradiktif jika saat Allah turun ke langit dunia untuk memberi ampunan, kita justru sibuk dengan urusan duniawi yang fana.
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan: “Rasulullah ﷺ biasa bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir Ramadan dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan di waktu lainnya.” (HR. Muslim). Beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarga agar tidak luput dari keberkahan Lailatul Qadar. Makna dari riwayat ini adalah menjauhi kesenangan duniawi demi fokus total beribadah, mengisi malam dengan shalat, dzikir, dan doa, serta memastikan keluarga ikut meraih keberkahan.
Sisa Ramadan adalah hari malu kepada Allah malu jika kita bertemu Idul Fitri namun dosa belum terampuni. Ia juga hari kejujuran membuktikan bahwa cinta kita kepada Allah bukan sekadar di lisan. Mari jadikan malam-malam terakhir ini sebagai momen menyepi bersama Allah di tengah hiruk-pikuk dunia. Semoga Allah menerima amal kita dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar dalam keadaan terbaik.(**)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515320/original/063647700_1772170133-dokumentasi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5446680/original/044858100_1765938416-superbank_2.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417962/original/021931100_1763555316-IMG_0958_1_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427026/original/069725800_1764324535-067513700_1761366387-Rokok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427044/original/059332900_1764325679-001407100_1762314482-Bontang_Terima_Hibah_Rp155_9_Miliar_dari_Jeju_1.jpg)


