Gibran Capres

3 hours ago 3

Sebenarnya Ahmad Ali, Ketua Harian PSI, tidak secara langsung berkata begitu. Ia hanya bilang: kalau Wapres Gibran Rakabuming Raka dilepas oleh Prabowo justru bahaya. Gibran bisa jadi pesaing berat Prabowo.

Ahmad Ali dulunya tokoh utama Partai Nasdem. Pernah jadi ketua fraksi Partai Nasdem di DPR. Ia politikus kaya asal Morowali. Saya pernah ke rumah bapaknya yang persis di seberang rumahnya sendiri. Sang ayah, Haji Ahmad, seorang Tionghoa muslim terkaya di sana.

Dengan ucapannya itu Ahmad Ali punya dua maksud: salah satunya, jangan sampai Gibran tidak jadi pasangan Prabowo di pilpres mendatang. Maksud kedua: bukan salah Gibran kalau kelak ia maju sendiri sebagai capres dari PSI.

Sebenarnya sesederhana itu. Tapi berkembang menjadi serius: seolah PSI sudah pasti mencalonkan Gibran sebagai capres. Berarti pula Prabowo akan berhadapan dengan Gibran di pilpres mendatang.

Namanya saja politik. Rasanya Ahmad Ali hanya ingin mendapat penegasan sejak dini: agar Gibran tetap digandeng Prabowo. Itu saja dianggap Gibran sudah jauh mengalah: harusnya giliran Gibran yang menjadi capres dan Prabowo cukup satu periode.

Sebelum pilpres ada pemilihan anggota DPR. Di pileg itu nanti posisi PSI memang sulit. Kalau tokoh utamanya hanya sebagai cawapres apa yang bisa “dijual”. Beda kalau sejak awal PSI sudah memutuskan: PSI akan mencapreskan Gibran. Rasanya bisa lebih semangat. Kalau PSI hanya bilang akan “mencawapreskan” Gibran di mana menariknya?

Saya pernah dihubungi tokoh politik nasional. Sampai beberapa kali. Itu sudah lama. Sebelum pilpres yang lalu. Bukan sekarang. Tokoh tersebut bermaksud mendirikan partai baru. Syaratnya: saya mau jadi capres partai baru itu.

Ia bilang, pencalonan itu akan diumumkan sejak partai itu didirikan. Kalau saya tidak mau, partai itu tidak jadi didirikan.

Saya menjawab tidak mau. Dirayu lagi. Tidak mau. Diajak ngobrol lagi. Tetap tidak mau. Partai baru itu pun tidak pernah berdiri.

Sang tokoh punya pandangan simple: partai itu bisa dapat suara atau tidak akan dilihat siapa calon presiden yang diajukan.

Mungkin sama dengan prinsip partai baru yang pekan lalu dideklarasikan di Jakarta: Partai Gerakan Rakyat.

Partai itu sudah langsung menyebut bahwa capresnya nanti adalah Anies Baswedan. Mungkin belum bisa segera membuat Anies sebagai presiden, tapi sudah bisa mengeruk suara dari simpatisan Anies. Lalu pada pilpres berikutnya sudah punya modal suara yang lebih jelas.

Berarti strategi Partai Gerakan Rakyat jelas: meraih kursi di parlemen dengan memanfaatkan nama Anies Baswedan.

Memang sulit bagi PSI untuk langsung mencalonkan Gibran. Harus ada kejelasan dulu dari sikap Prabowo: Gibran digandeng lagi atau tidak.

Gibran Capres

Ilustrasi Prabowo dan Gibran.–

Kalau Gibran digandeng lagi berarti PSI harus berebut suara di lingkungan “pendukung Prabowo”. PSI harus bertarung di dalam selimut yang sama: selimut Gerindra. Padahal ada banyak partai di bawah selimut yang sama.

Maka kalau Gibran tetap digandeng Prabowo, PSI harus menggunakan “cara Nasdem” untuk meraih banyak kursi di parlemen: “membajak” para pemilik kursi dari partai lain.

Suatu saat dulu Nasdem sangat dikenal sebagai “pembajak” kursi partai lain. Terutama ketika jabatan jaksa agung dipegang orang Nasdem.

Apakah PSI akan pakai cara Nasdem dulu itu? Tentu tidak perlu tahun ini. Masih ada waktu. Bisa dua tahun lagi. Agar mereka tidak perlu menghadapi risiko diberhentikan partainya dari keanggotaan DPR.

Kalau transfer itu dilakukan dua tahun lagi toh masa jabatan sudah hampir selesai. Diberhentikan pun tidak masalah. Toh nilai transfernya sebanding dengan hilangnya fasilitas di DPR selama satu tahun.

Meski transfer baru dilakukan dua tahun lagi, “perjanjian di bawah meja”-nya sudah harus dibuat tahun ini. Maka kita akan segera melihat proses naturalisasi kursi antar partai. Tentu masih bersifat bisik-bisik tapi sudah bisa didengar tetangga.

Kursi siapa saja yang diincar PSI? Rasanya sulit untuk melakukan “naturalisasi” pemilik kursi Gerindra. Bisa digebuki beneran. Mungkin sulit juga mentrasfer kursi dari PDI-Perjuangan. Ups… Di Jateng mungkin tidak sulit. Ini hanya soal berapa nilai transfer itu: wani piro!

Dari Nasdem? Ahmad Ali punya jaringan yang kuat di Nasdem. Tidak perlu lagi mencari info dari para calo –ia sendiri tahu sampai pun ke jantung partai.

Rasanya harapan PSI agar sesegera mungkin dapat kejelasan nasib Gibran juga tidak mudah. Prabowo masih banyak pekerjaan untuk bisa memikirkan itu. Rasanya itu baru akan diputuskan di saat injury time. Menggantung lebih baik daripada menggorok.(Dahlan Iskan)

Halaman: 1 2

Read Entire Article
Information | Sukabumi |