Mahasiswa Nusa Putra Hadirkan “Tungku Rakyat” Langkah Nyata Atasi Sampah, Tuai Apresiasi Pemkab Sukabumi

3 weeks ago 24

SUKABUMI – Di tengah tantangan serius pengelolaan sampah di Jawa Barat, harapan baru datang dari generasi muda. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Nusa Putra University (NPU) menghadirkan inovasi bertajuk “Tungku Rakyat”, sebuah teknologi sederhana namun berdampak besar untuk pengelolaan sampah berbasis komunitas. Inovasi ini secara resmi diluncurkan pada Jumat, 1 Agustus 2025, di Kampung Pasir Nangka, Desa Mekarnangka, Kecamatan Cikidang, oleh Wakil Bupati (Wabup) Sukabumi, Andreas.

Dalam sambutannya, Andreas menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi pengelolaan sampah di wilayah Jawa Barat yang masih jauh dari kata ideal. Menurutnya, dari 29,5 juta ton sampah yang dihasilkan setiap bulan, baru sekitar 10 persen yang berhasil ditangani secara optimal. Sisanya masih menjadi beban lingkungan, kesehatan, dan estetika kawasan.

“Ini adalah persoalan serius yang harus ditangani dari hulu, bukan hanya mengandalkan solusi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Diperlukan inovasi dan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan kampus,” ujar Andreas di hadapan warga dan para mahasiswa.

Andreas juga memberikan apresiasi tinggi kepada mahasiswa Nusa Putra University atas kontribusinya yang dinilai tepat sasaran dan kontekstual. Ia menyebut Tungku Rakyat sebagai contoh nyata bagaimana akademisi bisa turut serta menyelesaikan persoalan krusial di masyarakat melalui pendekatan teknologi sederhana, namun efektif dan adaptif terhadap kondisi lokal.

“Ini bukan sekadar alat, tetapi simbol kepedulian anak muda terhadap lingkungan dan masa depan bersama. Saya berharap inovasi ini bisa direplikasi di desa-desa lain, bahkan dijadikan program lintas kecamatan,” tambahnya.

Ketua Tim KKN NPU untuk Desa Mekarnangka, Nauval Raihan, mengungkapkan bahwa ide pembuatan Tungku Rakyat berangkat dari observasi langsung di lapangan. Timnya menemukan bahwa pembakaran sampah secara terbuka masih menjadi praktik umum warga. Hal ini memicu masalah pencemaran udara, risiko kebakaran, serta dampak negatif bagi kesehatan.

“Kami melihat bahwa sebagian besar masyarakat belum memiliki alternatif aman dalam menangani sampah rumah tangga. Mereka membakar sampah di pekarangan tanpa kontrol emisi, dan itu sangat berisiko. Dari sanalah kami mulai merancang solusi yang bisa diterapkan langsung oleh warga, dengan biaya murah namun efektif,” ujar Nauval.

Tungku ini dirancang menggunakan bahan lokal dan prinsip efisiensi termal. Mengadopsi dua pintu operasional—satu untuk memasukkan sampah, dan satu lagi untuk pembuangan abu—tungku ini mampu bekerja di suhu hingga 800 derajat Celsius, yang memungkinkan pembakaran lebih sempurna dan ramah lingkungan. Dengan teknologi ini, volume sampah dapat dikurangi hingga 90 persen, dengan emisi jauh lebih rendah dibandingkan pembakaran terbuka.

Keberhasilan peluncuran Tungku Rakyat tak lepas dari keterlibatan aktif masyarakat setempat. Selama proses pembangunan, warga turut bergotong royong membantu pengerjaan tungku dan mengikuti edukasi pengelolaan sampah dari tim mahasiswa. Hal ini mencerminkan semangat kolaboratif antara akademisi dan komunitas, yang dinilai menjadi fondasi penting dalam mengatasi persoalan lingkungan di tingkat akar rumput.

“Kami sangat bersyukur karena masyarakat menyambut baik dan mau terlibat langsung. Ini menandakan bahwa perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah bisa dimulai dari inisiatif bersama, bukan semata-mata kebijakan top-down,” ujar Nauval penuh semangat.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi sendiri saat ini tengah menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih sistematis dan komprehensif. Salah satu wacana yang tengah digodok adalah pemberlakuan sanksi administratif bagi pelaku usaha pariwisata yang tidak memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik. Dalam konteks ini, keberadaan inovasi seperti Tungku Rakyat dianggap sangat mendukung arah kebijakan tersebut, bahkan bisa menjadi solusi percontohan di wilayah pariwisata berbasis desa.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi yang turut hadir dalam acara peresmian juga menyampaikan ketertarikannya untuk mengkaji potensi penyebarluasan tungku ini ke desa-desa binaan.

“Kami melihat ada potensi luar biasa dari inovasi ini. Jika bisa diterapkan secara massal dengan sedikit penyesuaian desain, maka ini bisa menjadi bagian dari program strategis daerah dalam penanganan sampah berbasis komunitas,” ujar perwakilan DLH.

Dengan peluncuran Tungku Rakyat, mahasiswa KKN Nusa Putra University tidak hanya memberikan solusi teknis, tetapi juga menanamkan semangat perubahan sosial. Inovasi ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas, didukung pengetahuan dan empati, bisa melahirkan dampak konkret yang berkelanjutan.

Semangat mahasiswa, dukungan pemerintah daerah, serta partisipasi warga menciptakan ekosistem kolaboratif yang potensial untuk menjawab tantangan besar pengelolaan sampah. Sebagaimana pesan Wakil Bupati Andreas dalam penutupan acara.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau teknologi canggih. Perubahan sejati dimulai dari desa, dari masyarakat, dan dari generasi muda yang peduli. Dan hari ini, kita telah menyaksikan salah satu contohnya,” pungkasnya. (wdy)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |