Pariwisata adalah Tentang Suguhan Insan Hospitality

4 weeks ago 28

Oleh : Euis Balillah

Dosen Akademi Pariwisata CBI Sukabumi

Pariwisata adalah suatu pengembaraan. Mengisi celah celah ruhaniyah nan terasa kosong,bukan tentang hakekat dan predikat indrawi. Perjalanan menemukan makna lain dibalik nan kasad. Tentang bagaimana seseorang kepada lainnya memberi suguhan yang membentuk nada nada rasa keceriaan dan penghayatan. Tentang orang yang berinteraksi layak suatu kedekatan yang sudah berjalan lama.

Pariwisata merupakan sektor yang terus berkembang pesat dan menjadi pilar ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, pertumbuhan ini juga membawa tantangan, terutama dalam hal keberlanjutan. Di sinilah manajemen sumber daya pariwisata memegang peranan krusial. Ini bukan sekadar tentang menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana mengelola potensi wisata secara bijaksana demi keuntungan jangka panjang bagi semua pihak. Kata kuncinya adalah keberlanjutan nan lestari. Improvement melahirkan dampak dampak progresif. Semakin lama semakin terasah dan meningkatkan mutu.

Pernahkah merasa sangat terkesan setelah berlibur? Bukan hanya karena pemandangannya, tapi karena keramahan orang-orangnya, senyuman hangat petugas hotel, atau cerita menarik dari pemandu wisata? Di situlah kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata berperan. Di balik setiap pengalaman wisata yang berkesan, selalu ada manusia yang bekerja sepenuh hati. SDM wisata berposisi sebagai pioner.Garis depan yang memberi makna apakah kesenangan dan ketenangan bertransformasi secara alamiah.

Pariwisata adalah tentang pengalaman. Pengalaman terbaik lahir dari interaksi manusia. Jadi, tidak heran kalau sektor ini sangat bergantung pada kualitas SDM-nya. Bukan hanya soal bisa bekerja, tapi juga soal cara berkomunikasi, bersikap, dan melayani dengan hati. SDM wisata adalah mereka sudah mampu bergandengan dengan senyum tulus. Memikat wisatawan dengan hormat dan ramah. Bahkan destinasi secantik apapun, tapi kalau SDM pelayanannya tidak ramah, pemandunya belum berkualifikasi, tidak mampu mengadakan perikataan kemitraan yang melahirkan bina suasana, maka ketercapaian mengisi celah kekosongan wisatawan akan gagal.

Pertanyaannya akhir dari kesuksesan manejerial wisatawan akankah wisatawan kembali ke tempat itu? Pertanyaan ini merupakan fenomena manajemen global pada bebagai sektor usaha berbasis pelayanan . Inilah sebabnya, manajemen SDM pariwisata yang berdampak bukan sekadar keharusan, tapi kebutuhan mutlak. Potensi SDM berdampak adalah suatu proses nan bermula pada efek hello hingga menjalin rasa keterikatan wisatawan tentangnya dan tentang tempat itu.

Mengelola SDM di industri pariwisata tidak semudah menyusun jadwal kerja.Banyak tenaga kerja datang dan pergi (turnover tinggi),lulusan pariwisata belum tentu siap kerja,pelatihan sering minim dan kurang praktis.

Industri pariwisata juga naik-turun, tergantung musim dan trend.Jadi,tidak bisa hanya berpikir soal “siapa yang bisa kerja”, tapi lebih pada bagaimana membuat mereka berkembang dan betah.SDM yang Hebat, Dampaknya Luar Biasa.Kalau bisa mengelola SDM dengan benar, hasilnya luar biasa.Pelayanan lebih baik, tamu lebih puas.Wisatawan ingin kembali dan merekomendasikan ke orang lain. Karyawan merasa dihargai, dan bekerja sepenuh hati.Destinasi jadi lebih terkenal karena kualitas manusianya
Banyak wisatawan bilang, mereka jatuh cinta pada suatu tempat bukan karena bangunannya, tapi karena keramahan manusianya.

Kekuatan pariwisata sesungguhnya ada di masyarakat lokal. Mereka adalah penjaga budaya, alam, dan cerita. Kalau diberi pelatihan dan kepercayaan, mereka bisa jadi pemandu terbaik, pengelola homestay yang ramah, atau penjual suvenir dengan sentuhan personal.Jadi, pemberdayaan masyarakat lokal bukan cuma soal ekonomi, tapi juga soal menjaga identitas dan jiwa destinasi itu sendiri.

Era Digital adalah tentang kemampuan literasi digital.
Hari ini, wisatawan tidak datang karena brosur. Mereka melihat Instagram, memesan lewat aplikasi, membaca review online. Jadi, SDM pariwisata juga perlu belajar hal-hal baru: pemasaran digital, teknologi reservasi, hingga etika di media sosial.Dengan begitu, mereka tidak hanya ramah secara langsung, tapi juga profesional di dunia maya.

Mengelola SDM pariwisata itu bukan soal angka dan jadwal semata. Ini tentang manusia: tentang semangat, keinginan untuk belajar, dan keikhlasan dalam melayani. Kalau kita bisa menciptakan sistem yang peduli pada manusia, maka mereka pun akan memberikan yang terbaik pada wisatawan.
Dan ketika wisatawan pulang dengan senyum puas, itulah bukti bahwa manajemen SDM yang berdampak benar-benar bekerja.

Untuk itulah pembentukan insan pariwisata yang handal membutuhkan berbagai macam penempaan. Ada jalur pendidikan dan pelatihan,jalur pengalaman,sampai pada jalur rekruitmen duta wisata. Insan hospitaliti yang lahir dari tiga macam pilar ini pada akhirnya bermuara pada satu titik : bagaimana memanej wisatawan hingga terjadi interaksi yang berasimilasi. Ini bukan masalah logika dan keilmuan tetapi lebih kepada kecerdasan karakter nan artistik. Insan hospitaliti tidaklah lahir sebagai produk genius level tinggi tetapi merupakaan tempaan alami yang memiliki persfektif bahwa suatu ketercapaian bilamana orang lain senang dan merasakan kedamaian.

Apalah artinya alam nan indah, hotel mewah, produk restoran kualitas tinggi bila yang dihadapi wisatawan adalah suguhan nan tidak mengandung humanistik. Secanggih apapun utility of material tidak akan mampu memobitas karakteristik humanis. Teknologi dan industri bukanlah tujuan melainkan alat. Bila suatu industri pelayanan menempatkan teknologi di depan dengan mengabaikan service humanistis maka manusia justru akan merasa pada kesendirian. Bagaimanapun unsur human relation tidak akan mampu dikalahkan oleh kecanggihan teknologi.

Hingga kemudian perkembangan teknologi apapun dalam kontek pariwisata tidak akan mampu menggantikan pelayanan humanistis selaku takdir kebutuhan manusia.

Defenisi akhir tentang pariwisata adalah pelayanan. Defenisi akhir tentang pelayanan adalah rasa tenang dan ceria. Rasa tenang dan ceria belum mampu diproduk oleh teknologi. Melainkan dia lahir dari takdir humanistis. Dimiliki manusia tentang senyumnya, tentang dialogisnya, tentang guidingnya, sampai tentang keterciptaan keterikatan batiniah hingga terkadang pada waktu panjang. (*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |