
SUKABUMI – Menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kota Sukabumi menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Aafii Ghushan. Siswa SMAN 5 Kota Sukabumi itu dipercaya menjalankan tugas sebagai penggerek pagi dalam upacara peringatan HUT ke-81 RI.
Bagi Aafii, kepercayaan tersebut menjadi sebuah kebanggaan sekaligus momen yang mengharukan. Ia merasa beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengibarkan Sang Merah Putih dalam momentum bersejarah yang hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup.
“Bangga dan terharu karena bisa menaikkan bendera pusaka dan tugasnya bisa sukses,” ungkap Aafii.
Ketertarikan Aafii terhadap dunia Paskibraka ternyata sudah tumbuh sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap peringatan 17 Agustus, ia selalu menyaksikan prosesi pengibaran bendera melalui televisi. Dari situlah muncul keinginan untuk suatu hari bisa menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera.
“Awalnya saya tertarik mengikuti seleksi karena waktu SD selalu menonton pengibaran bendera di TV setiap 17 Agustus. Dari situ awal saya tertarik mengikuti dunia Paskibraka,” tuturnya.
Sebagai penggerek pagi, Aafii memiliki tanggung jawab penting dalam proses pengibaran bendera. Ia bertugas membuka tali, mengaitkan tali pada bendera, kemudian menarik tali hingga Sang Merah Putih mencapai puncak tiang.
Tugas tersebut membutuhkan ketelitian dan konsentrasi tinggi. Salah satu hal yang paling diperhatikan adalah memastikan posisi kaitan tali pada bendera tidak terbalik atau membentuk posisi yang salah.
Selain itu, Aafii harus mampu menjaga tempo ketika menaikkan bendera agar gerakannya selaras dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Tanggung jawabnya mengaitkan tali ke bendera agar tidak terbalik dan menjaga tempo saat menaikkan bendera supaya pas dengan lagu,” jelasnya.
Menjelang pelaksanaan upacara, Aafii berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia memilih menenangkan pikiran dan hati agar rasa gugup tidak mengganggu konsentrasi. Ia juga terus mengingat setiap gerakan yang harus dilakukan selama menjalankan tugas.
Tantangan terbesar, menurut Aafii, berada pada proses mengaitkan tali ke bendera dan menjaga konsentrasi saat bendera mulai dinaikkan. Namun, ia tidak membiarkan rasa gugup menguasai dirinya. Aafii memilih tetap tenang dan fokus hingga seluruh rangkaian pengibaran selesai.
“Kalau gugup, saya anggap tidak ada yang menonton. Saya juga menarik napas perlahan-lahan agar tetap tenang,” katanya.
Di balik keberhasilannya menjalankan tugas sebagai penggerek pagi, Aafii menyebut ada sosok yang tidak pernah lelah memberikan dukungan, yakni pelatih dan pamong Paskibraka.
Menurutnya, pelatih dan pamong bukan hanya memberikan arahan selama latihan, tetapi juga menjadi tempat untuk berbagi cerita ketika para anggota Paskibraka menghadapi rasa lelah maupun tekanan selama menjalani proses persiapan.
“Pastinya pelatih dan pamong. Setiap kami capek atau dongkol di lapangan, mereka yang selalu mendengarkan keluh kesah kami,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari keluarga dan pihak sekolah. Aafii mengaku mendapatkan dukungan berupa doa, biaya, hingga semangat selama mengikuti proses seleksi dan latihan Paskibraka.
Bagi Aafii, keberhasilan menjalankan tugas dalam upacara HUT ke-81 RI menjadi salah satu pencapaian yang akan selalu dikenangnya.
Tidak hanya aktif di Paskibraka, Aafii juga menekuni olahraga pencak silat. Ia bahkan pernah meraih prestasi dalam Sukabumi Championship 3 tahun 2024 tingkat Jawa Barat.
Ke depan, ia ingin lebih fokus mengejar prestasi akademik. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMAN 5 Kota Sukabumi, Aafii berharap dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan. (wdy)
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)















