Ade Maman, petani bunga Sukaraja, sukses menjangkau pasar nasional.SUKABUMI – Di Kampung Pulo Panggang (Batu Karut), Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, hamparan warna-warni bunga krisan dan Pikok tumbuh subur di bawah naungan saung-saung sederhana. Siapa sangka, bunga yang kerap menghiasi hajatan, pernikahan, hingga upacara adat ini menjadi sumber penghidupan bagi Ade Maman (51), seorang petani bunga yang menekuni usaha ini sejak 2017.
Awalnya, Ade belajar bertani bunga dengan orang lain selama dua tahun. Setelah itu, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri. “Kalau bertani sayuran biayanya lebih irit, tapi kalau bunga itu mahal. Bikin saung saja bisa sampai Rp30 juta,” ujarnya. Dari satu saung, kini ia memiliki enam saung dengan kapasitas tanam mencapai 25 ribu hingga 40 ribu bunga per saung.
Harga jual bunga krisan dan Pikok di kebun mencapai Rp7.500 per ikat jika dipetik sendiri, sementara jika dipanen oleh petani bisa mencapai Rp8.000 hingga Rp10.000 per ikat. Dalam satu kali masa tanam selama empat bulan, satu saung bisa menghasilkan omzet Rp13 juta hingga Rp20 juta, tergantung kualitas bunga dan kondisi pasar.
Pasar utama bunga Ade adalah hajatan, acara keagamaan, hingga dekorasi ucapan selamat. Bunga-bunga ini dikirim ke Jakarta, Cirebon, Jogja, hingga Purwokerto. “Kalau bulan puasa memang agak sepi, tapi bulan Maulud dan musim hajatan biasanya ramai,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Unit BRI Unit Sukaraja Cabang Sukabumi, Irwan Maulana, menilai usaha Ade sebagai bukti nyata bagaimana KUR mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan.
“Pak Ade adalah contoh bagaimana keberanian memulai usaha bisa berbuah manis. Dari satu saung kini menjadi enam saung, dengan produksi bunga yang mampu menjangkau pasar nasional. Ini membuktikan bahwa usaha kecil bisa tumbuh besar dengan dukungan permodalan,” ujarnya.
Irwan menekankan bahwa BRI hadir bukan hanya memberi modal, tetapi juga mendampingi masyarakat agar usaha mereka berkelanjutan. “Dengan KUR Rp40 juta hingga Rp70 juta, Pak Ade bisa memperluas usaha dan meningkatkan produksi. Dukungan ini penting agar petani bunga tetap bertahan menghadapi tantangan cuaca, hama, dan fluktuasi pasar,” katanya.
Menurutnya, usaha bunga memiliki nilai estetika sekaligus budaya. “Bunga Crisan dan Pikok bukan hanya komoditas, tetapi juga bagian dari tradisi masyarakat. Dari hajatan hingga upacara adat, bunga selalu hadir sebagai simbol keindahan dan kebersamaan. Dengan adanya usaha seperti ini, budaya lokal tetap terjaga,” jelasnya.
Menutup komentarnya, Irwan berharap lebih banyak petani berani mencoba komoditas baru. “Kami ingin lebih banyak masyarakat desa yang berani berinovasi. Karena dari inovasi kecil itulah lahir kekuatan besar untuk membangun ekonomi bangsa,” tutupnya.(**)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515320/original/063647700_1772170133-dokumentasi.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513545/original/026378500_1772020487-WhatsApp_Image_2026-02-25_at_17.49.03.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527516/original/032102200_1773205136-Foto_1_-_ROG_Zephyrus_Line_Up.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522080/original/031990100_1772713347-WhatsApp_Image_2026-03-05_at_19.20.09.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529420/original/082768300_1773334051-article_bank__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524326/original/092279500_1772940037-f9e892a9-823d-4250-9a80-c8102283a42c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566130/original/037654700_1777115193-Nnicgi2v3KAezF9tDS92s4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5188955/original/071492400_1744719603-pet-lifestyle-together-with-owner.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554154/original/075633800_1776061310-KAI_Acces.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518589/original/086644300_1772513347-DSC09577.jpeg)


