Sejumlah petugas Lapas Kelas IIB Sukabumi saat menfikuti pembaretan di kawasan Pondok Halimun, Kabupaten SukabumiWARUDOYONG — Sembilan Aparatur Sipil Negara (ASN) baru di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sukabumi, menjalani tradisi pembaretan di kawasan Pondok Halimun, Kabupaten Sukabumi. Hal itu, menjadi bagian dari proses pembinaan pegawai untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, loyalitas hingga ketahanan fisik dan mental.
Sembilan peserta yang merupakan ASN tahun 2024 dan 2025 itu, harus mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah disiapkan panitia.
Perjalanan menuju kawasan Pondok Halimun menjadi salah satu bagian dari proses yang harus dilalui sebelum mereka menerima baret sebagai simbol tradisi kedinasan. Kegiatan diawali dengan persiapan dan apel sebelum peserta diberangkatkan untuk mengikuti long march.
Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi, Budi Hardiono mengingatkan peserta agar tidak memaksakan diri apabila mengalami kendala selama perjalanan. Setiap kondisi yang dirasakan peserta diminta segera disampaikan kepada panitia demi memastikan keselamatan selama kegiatan.
“Ikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat, disiplin dan tanggung jawab. Kalau ada kendala, segera sampaikan kepada panitia,” kata Budi kepada Radar Sukabumi, Minggu (13/9).
Untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib, panitia menyiapkan sejumlah unsur pendukung, mulai dari tim keamanan, sweeper hingga tim medis. Seluruh personel bekerja secara terkoordinasi untuk mengawal peserta selama rangkaian pembaretan berlangsung.
Kegiatan tersebut sebelumnya telah diketahui oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, pihak Kepolisian serta instansi terkait. “Dalam upacara tersebut, peserta mengikuti sejumlah rangkaian resmi, termasuk pembacaan Tri Dharma Petugas Pemasyarakatan hingga prosesi penyematan baret oleh Inspektur Upacara,” ucapnya.
Bagi Budi Hardiono, baret yang dikenakan para peserta bukan sekadar perlengkapan kedinasan. Di balik penyematannya terdapat proses, perjuangan dan tradisi yang diharapkan menjadi bagian dari perjalanan mereka sebagai insan pemasyarakatan.
“Ini bukan ceremonial, ini merupakan sejarah. Baret yang kalian pakai itu tidak semata-mata diberikan, tetapi ada proses dan tradisi yang harus dijalani. Tradisi ini yang akan terus kita ingati,” ungkap Budi.
Menurutnya, pembaretan menjadi momentum untuk membangun rasa kebersamaan sekaligus memperkuat nilai-nilai yang harus dimiliki setiap pegawai dalam menjalankan tugas. Tradisi tersebut diharapkan tidak berhenti pada prosesi penyematan baret. “Nilai disiplin, loyalitas, tanggung jawab dan kekompakan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari,” cetusnya.









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293547/original/038576300_1783733711-roster_taman_3.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6109337/original/054962400_1778994759-Screenshot_2026-05-17_114441.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6106891/original/010738600_1778992419-WhatsApp_Image_2026-05-16_at_17.46.41.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558276/original/056214800_1776411094-unnamed__30_.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7746836/original/040565800_1780554499-1.jpg)