STIKes Sukabumi Perkuat Kompetensi Kegawatdaruratan

5 hours ago 8

SUKABUMI – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes)  Sukabumi memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang kegawatdaruratan melalui pelatihan BTCLS dan ACLS. Kegiatan ini dirancang untuk membekali calon tenaga kesehatan agar mampu menangani kondisi trauma, henti jantung, gangguan pernapasan, hingga kegawatan kardiovaskular secara cepat dan tepat.

Pelatihan BTCLS dan ACLS STIKes Sukabumi tersebut diikuti 220 peserta yang terdiri dari mahasiswa D3 Keperawatan dan Program Profesi Ners. Rinciannya, sebanyak 72 mahasiswa D3 Keperawatan dan 148 mahasiswa Program Profesi Ners.

Selain mahasiswa, pelatihan juga melibatkan alumni STIKes Sukabumi.

Penanggung jawab kegiatan, Herlina Lidiyawati, mengatakan pelatihan BTCLS dan ACLS menjadi bagian dari upaya STIKes Sukabumi memperkuat kompetensi kegawatdaruratan mahasiswa, khususnya calon tenaga kesehatan yang nantinya akan terjun langsung ke pelayanan kesehatan.

“Penanganan kondisi trauma dan kegawatdaruratan kardiovaskular membutuhkan keterampilan yang cepat, tepat, sistematis, dan sesuai standar,” ujar Herlina.

Menurut Herlina, kompetensi kegawatdaruratan sangat penting bagi tenaga kesehatan karena kondisi kritis dapat terjadi kapan saja dan pada siapa saja.

Keterlambatan dalam mengenali kondisi pasien, melakukan tindakan awal, maupun menentukan prioritas pertolongan dapat berdampak serius terhadap keselamatan pasien.

Karena itu, melalui pelatihan BTCLS dan ACLS, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teori, tetapi juga dilatih untuk mengambil keputusan serta melakukan tindakan secara terstruktur dalam situasi kritis.

“Mahasiswa diharapkan mampu menghadapi pasien dengan trauma, henti jantung, gangguan jalan napas, gangguan pernapasan, maupun kondisi kardiovaskular lainnya,” jelasnya.

Pelatihan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam melakukan pengkajian awal, menentukan prioritas penanganan, melakukan resusitasi, bekerja dalam tim, serta mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan tindakan segera.

Dalam pelatihan BTCLS dan ACLS STIKes Sukabumi, peserta mendapatkan berbagai materi dan praktik penanganan kegawatdaruratan.

Materi tersebut antara lain Basic Life Support (BLS) dan resusitasi jantung paru, penatalaksanaan jalan napas dan pernapasan, penanganan pasien trauma, penanganan syok dan kegawatan sirkulasi.

Peserta juga mendapatkan materi mengenai penilaian dan penatalaksanaan kegawatdaruratan kardiovaskular, pengenalan gangguan irama jantung, penggunaan AED/defibrilasi sesuai kompetensi, serta algoritma penanganan henti jantung.

Tidak hanya keterampilan klinis, peserta juga dilatih membangun komunikasi dan kerja sama tim dalam situasi kegawatdaruratan.

Praktik dan simulasi menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan materi yang telah dipelajari melalui berbagai skenario kasus kegawatdaruratan.

Herlina menegaskan, target pelatihan BTCLS dan ACLS STIKes Sukabumi bukan sekadar membuat peserta lulus atau mendapatkan sertifikat.

Lebih dari itu, peserta diharapkan benar-benar memiliki kompetensi yang dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan di lapangan.

“Targetnya bukan hanya peserta lulus pelatihan atau memperoleh sertifikat saja. Kami berharap mereka benar-benar memiliki kompetensi yang dapat diterapkan ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan,” tegasnya.

Peserta diharapkan mampu mengenali kondisi kegawatdaruratan lebih cepat, mengambil keputusan dengan tepat, melakukan tindakan sesuai standar, bekerja secara efektif dalam tim, serta memberikan pelayanan yang aman dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Kompetensi tersebut diharapkan menjadi bekal profesional bagi lulusan ketika bekerja di rumah sakit, puskesmas, klinik maupun berbagai fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Pelatihan BTCLS dan ACLS juga menjadi bagian dari komitmen STIKes Sukabumi dalam meningkatkan kualitas lulusan, khususnya dari Program D3 Keperawatan dan Profesi Ners.

STIKes Sukabumi menekankan pembelajaran berbasis kompetensi dan praktik langsung sebagai bagian dari upaya mencetak tenaga kesehatan yang profesional, kompeten, siap kerja, dan memiliki daya saing.

Herlina mengatakan pelatihan BTCLS dan ACLS sangat baik apabila terus dikembangkan sebagai program berkelanjutan.

“Ini menjadi program pelatihan yang selalu dilakukan setiap tahun bagi para lulusan D3 Keperawatan dan Ners,” ungkapnya.

Dengan pelaksanaan secara berkala, kompetensi kegawatdaruratan mahasiswa dan lulusan diharapkan terus terasah sehingga mampu memberikan respons yang cepat, tepat, aman, dan sesuai standar ketika menghadapi pasien dalam kondisi kritis. (wdy)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |