Tim PKM-RSH STIKes Sukabumi Kaji Niat Imunisasi Campak dengan Nilai Trisilas Sunda

4 hours ago 7
Tim PKM-RSH STIKesmi memberikan edukasi dan berdiskusi bersama masyarakat dalam penelitian terkait imunisasi campak serta nilai budaya Trisilas Sunda di Kabupaten Sukabumi.(dok/radarsukabumi)

SUKABUMI – Nilai budaya lokal ternyata dapat menjadi pintu masuk untuk memahami keputusan kesehatan masyarakat. Hal inilah yang tengah dikaji Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Sukabumi melalui penelitian mengenai niat orang tua dalam memberikan imunisasi campak kepada anak.

Dalam penelitian tersebut, tim mengangkat Trisilas Sunda sebagai perspektif budaya untuk melihat bagaimana nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh berkaitan dengan ketahanan masyarakat terhadap misinformasi kesehatan serta skeptisisme medis.

Tim yang terdiri atas Evelyn Kyra Jodina Tanoto, Muhammad Reyhan Fadhlur Rahman, Syakila Cahyawati, Moch Hasbi Ass-Shidiq, dan Berlinaurel Maulida Arseta ini berada di bawah bimbingan Ns. Fera Melinda.

Penelitian tersebut dilaksanakan di Kabupaten Sukabumi dengan mengkaji hubungan antara nilai Trisilas Sunda, ketahanan misinformasi, skeptisisme medis, dan niat imunisasi campak pada orang tua.

Gagasan penelitian ini berangkat dari perhatian tim terhadap masih adanya tantangan dalam pelaksanaan imunisasi campak. Salah satunya adalah keraguan orang tua yang dapat muncul akibat paparan informasi kesehatan yang menyesatkan.

Selain misinformasi, kekhawatiran terhadap keamanan dan manfaat vaksin serta tingkat kepercayaan terhadap institusi kesehatan juga menjadi faktor yang menarik perhatian para mahasiswa.

Menurut tim, persoalan tersebut tidak cukup dilihat hanya dari tingkat pengetahuan masyarakat mengenai imunisasi. Cara masyarakat menerima, menyaring, dan mempercayai informasi juga perlu dipahami, termasuk bagaimana nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.

“Kami ingin melihat persoalan imunisasi tidak hanya dari sisi pengetahuan masyarakat, tetapi juga dari bagaimana nilai budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat berkaitan dengan cara orang tua menghadapi informasi dan membentuk keputusan kesehatan,” ujar Evelyn.

Dalam penelitian ini, Trisilas Sunda menjadi salah satu perspektif untuk memahami perilaku kesehatan masyarakat. Nilai silih asih mencerminkan sikap saling menyayangi, silih asah bermakna saling mencerdaskan, sedangkan silih asuh menggambarkan sikap saling membimbing dan menjaga.

Ketiga nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan bagaimana orang tua menghadapi informasi mengenai imunisasi campak.

Tim melihat nilai silih asih dapat dikaitkan dengan kepedulian terhadap kesehatan anak dan lingkungan sekitar. Sementara silih asah berkaitan dengan proses saling berbagi dan mengklarifikasi informasi, sedangkan silih asuh menekankan pentingnya sikap saling membimbing dan menjaga dalam mengambil keputusan.

Pendekatan ini sekaligus mempertemukan budaya lokal dengan isu kesehatan modern, khususnya dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital.

Penelitian tersebut juga memberikan perhatian khusus terhadap ketahanan misinformasi dan skeptisisme medis.

Ketahanan misinformasi dipandang sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, menyaring, dan menolak informasi kesehatan yang keliru. Sementara skeptisisme medis berkaitan dengan keraguan seseorang terhadap keamanan maupun efektivitas vaksin serta tingkat kepercayaan terhadap tenaga kesehatan dan institusi kesehatan.

Dengan mengkaji kedua faktor tersebut bersama nilai Trisilas Sunda, tim berupaya memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai faktor yang dapat memengaruhi niat orang tua memberikan imunisasi campak kepada anak.

Untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif, tim menggunakan desain mixed-method dengan pendekatan explanatory sequential.

Tahap pertama dilakukan secara kuantitatif untuk menganalisis hubungan antarvariabel penelitian. Setelah itu, penelitian dilanjutkan dengan wawancara mendalam untuk memperjelas dan memperkaya temuan yang diperoleh dari tahap kuantitatif.

Penelitian tersebut direncanakan berlangsung selama empat bulan di Kabupaten Sukabumi.

Melalui penelitian ini, Tim PKM-RSH STIKes Sukabumi berharap dapat menghasilkan model yang menjelaskan keterkaitan antara nilai Trisilas Sunda, ketahanan misinformasi, skeptisisme medis, dan niat imunisasi campak.

Hasil penelitian diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian sosial humaniora, tetapi juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang strategi promosi imunisasi dan pencegahan misinformasi kesehatan yang lebih kontekstual.

Dengan demikian, pendekatan berbasis budaya lokal seperti Trisilas Sunda diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk membangun komunikasi kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan membantu orang tua mengambil keputusan kesehatan berdasarkan informasi yang tepat.(wdy)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |