Tarim Duduk

2 hours ago 1

Menu makan malam di rumah warga kampung Aidid itu campuran: Indonesia-Arab. Tarim Duduk

“Hadza kerupuk,” ujar tuan rumah menyodorkan satu kantong plastik. “Wa hadza blinjo,” tambahnya.

Beberapa kosa kata Indonesia memang sudah menjadi bahasa Arab di Tarim. Ada 6.000 mahasiswa Indonesia di Yaman. Yang di Tarim saja 3.000 orang.

“Sarung” juga sudah jadi kosa kata Arab di sana. Demikian juga “almari”, “sandal”, “kacamata”. Kalau “kursi” memang asalnya dari bahasa Arab yang sudah jadi bahasa Indonesia.

“Apa saja yang ada di Indonesia bisa didapat di Tarim. Tempe pun sudah ada yang membuat di sini”.

Makan malam itu lima orang: tuan rumah, satu guru asal Mesir, teman si Mesir, satu mahasiswa asal Banjarmasin dan satu cucu tuan rumah yang masih berumur 11 tahun.

Si cucu rajin sekali. Penuh inisiatif. Tanpa ada yang menyuruh. Pun tidak perlu ada kedipanmata tertuju kepadanya. Ia lakukan semuanya secara otomatis. Ia yang mengucurkan air dari teko: untuk cuci tangan kami sebelum makan. Ia yang mengucurkan air teko untuk cuci tangan setelah makan. Ia yang ambilkan air minum. Ia yang memindahkan piring seusai makan.

“Anda yang melakukan semua ini. Apakah karena merasa Andalah yang paling muda di antara kami?” tanya saya kepada si 11 tahun.

Ia hanya tersenyum. Kakeknya yang menjelaskan: itu sudah menjadi adab kami di sini. Itu bagian dari ajaran di dalam keluarga. Bahwa yang paling muda melayani yang lebih tua.

Anak harus mengabdi pada orang tua. Murid menghormati guru. Bakti kepada ibu bagian dari turunnya ridho. Menyakiti hati ibu bagian dari akan datangnya musibah dan kesialan.

Rupanya adab inilah yang menjadi daya tarik utama Tarim. Para mahasiswa Indonesia mengakui itu. Itulah yang membuat mereka kuliah di Tarim.

“Di sinilah satunya kata dan perbuatan bisa dirasakan”, ujar salah seorang mahasiswa Indonesia.

“Soal ilmu, pasti di pesantren Indonesia banyak yang lebih bagus. Soal ekonomi apa lagi. Apa yang bisa diharap dari Tarim. Tidak ada,” ujar yang lain. “Di sini kami mendapatkan teladan sempurna dari guru-guru kami,” tambah yang lain lagi.

Saya memang bertemu dengan para pengurus PPI di Tarim. Makan malam bersama. Bahkan di hari lain saya diundang ke forum mahasiswa Indonesia yang lebih besar.

Mahasiswa itu bercerita tentang yang terjadi di satu pengajian. Anak kecil membagikan selebaran kertas berisi doa. Ia menerima selebaran itu dengan tangan kiri. Anak kecil itu menarik kembali selebaran itu dari tangannya. Lalu menunjuk tangan kanannya.

Tarim Duduk

Masjid kuno dengan menara tanah di Tarim yang masuk cagar UNESCO (kanan). Sementara di sisi kiri merupakan pemandangan kampung tua di Tarim dengan gang-gang berliku dan bangunan dengan tembok dari tanah.–

Demikian juga soal siwak. Para guru selalu menggosok gigi dengan potongan kayu siwak. Setiap saat. Pun di depan kelas. Suatu saat guru mengajarkan ilmu tentang keutamaan siwak.

Keesokan harinya sang guru bertanya kepada murid: siapa yang hari itu sudah mengantongi siwak di saku. Ketika mendapatkan belum ada murid yang membawa siwak, pelajaran tidak dilanjutkan. “Untuk apa sudah belajar keutamaan siwak tapi kalian tidak menerapkan ilmu itu,” kata sang guru.

Saya pun ingat kejadian memalukan siang sebelumnya. Saya ziarah ke masjid tua di Tarim. Umurnya ratusan tahun. Masjid Mehdar (Al-Muhdhar). Menaranya pun terbuat dari tanah. Kuat sekali.

Di dalam masjid itu ada layanan minum air dari kran. Gratis. Dua kran. Satu kran berisi air minum buatan pabrik. Satu lagi kran air tanah dari bawah masjid –dengan banyak khasiat dan berkah bagi yang memercayainya

Saya minum yang dari air tanah. Minum di dekat kran. Sambil tetap berdiri. Teman saya, orang Tarim, juga mengambil gelas aluminium untuk kran air tanah. Lalu duduk. Baru minum.

Saya pun merasa ditegur secara tidak langsung: kok tidak minum sambil duduk.

“Kenapa Anda tadi tidak menegur saya ketika melihat saya minum sambil berdiri?”

Ia menjawab dengan cerita di zaman Nabi. Suatu saat, Hasan dan Husain, cucu Nabi, melihat orang berwudu dengan cara yang salah. Hasan mengajak Husain untuk menegur orang itu. Husain mencegah. “Lebih baik kita berwudu dengan cara yang benar di sebelah orang itu,” jawab Husain seperti yang ditirukan teman Tarim saya.

Tarim sangat religius.

Ajaran soal tangan kanan, minum sambil duduk, pakai siwak, dan sebangsa itu begitu dalamnya dihayati.

Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.

Kenapa di Indonesia soal tangan kanan, siwak dan minum sambil duduk dianggap lebih perlu dihayati dari pada yang satu itu. (*)

Halaman: 1 2

Read Entire Article
Information | Sukabumi |