Vertiqua: Menanam Ikan di “Langit” Cikole, Jawaban UMMI untuk Ketahanan Pangan Kota

3 hours ago 2

Oleh: Novita MZ/Tim LPPM UMMI

Di tengah hiruk-pikuk pusat Kota Sukabumi, sebuah paradoks tersembunyi di balik gang-gang sempit Kelurahan Cikole. Berdasarkan data profil wilayah tahun 2024 yang dihimpun oleh tim pelaksana pengabdian UMMI, kelurahan strategis seluas 82,56 hektare ini merupakan jantung administrasi kota sekaligus rumah bagi ribuan jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, yakni mencapai 5.776 jiwa per km². Namun, di balik angka-angka tersebut, terselip tantangan nyata yakni adanya angka kemiskinan di masyarakat. Seiring dengan kondisi tersebut, adanya keterbatasan lahan produktif yang bisa dikelola warga dan rentannya daerah terhadap banjir akibat meluapnya Sungai Cibeureum yang melintasi pemukiman.

Bagi warga Cikole, bertani atau budidaya ikan seringkali dianggap sebagai “kemewahan” yang hanya dimiliki warga pedesaan dengan lahan berhektar-hektar. Namun, paradigma ini mulai bergeser. Tim dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), hadir membawa sebuah teknologi yang memungkinkan masyarakat “menanam” ikan di teras rumah yang sempit sekali pun. Inovasi itu bernama Vertiqua (Vertical Aquaculture).

Menembus Batas Lahan dengan Vertiqua

Dipimpin oleh Ujang Dindin, S.Pi., M.Si., seorang pakar akuakultur, tim UMMI menciptakan Vertiqua (Vertical Aquaculture) sebagai solusi atas keterbatasan lahan dan air bersih di perkotaan. Secara teknis, Vertiqua adalah sistem budidaya ikan bertingkat yang menggunakan empat drum plastik bervolume 200 liter sebagai media utama. Bayangkan, hanya dengan luas area sekitar 2 m², warga bisa memiliki instalasi budidaya yang mampu menampung populasi ikan secara optimal.

“Fungsi utama Vertiqua adalah memungkinkan masyarakat budidaya ikan dan tanaman sekaligus di lahan terbatas,” jelas Ujang Dindin. Keajaiban sistem ini terletak pada filter Biofikal—sebuah sistem filtrasi cerdas yang terdiri dari lapisan pasir, arang kayu, arang sekam, dan tanaman kangkung. Filter ini tidak hanya membersihkan air dari urin dan sisa pakan ikan, tetapi juga mengubah limbah organik tersebut menjadi nutrisi bagi tanaman kangkung di atasnya. Inilah yang disebut dengan pertanian sirkular; tidak ada yang terbuang sia-sia.

Kolaborasi Multidisiplin: Dari Perikanan hingga Digital Marketing

Inovasi ini tidak lahir dari satu bidang ilmu saja. LPPM UMMI menurunkan tim “Dream Team” yang terdiri dari dosen lintas disiplin: Asril Adi Sunarto, M.Kom. dari Teknik Informatika yang mengawal aspek digital, serta Dr. Neneng Kartika Rini, S.P., M.P. dari Agribisnis yang membedah potensi ekonomi. Tidak hanya dosen, sebanyak 20 mahasiswa dari berbagai program studi—termasuk BEM Universitas—turut terjun langsung mendampingi warga.

Keterlibatan mahasiswa ini memberikan warna tersendiri. Mereka berperan sebagai agen perubahan yang memberikan pendampingan teknis, mulai dari perakitan alat hingga pengukuran kualitas air harian seperti pH, suhu, dan oksigen terlarut. Dampaknya luar biasa; proses transfer ilmu pengetahuan menjadi lebih cair dan mudah diterima oleh kelompok sasaran.

Mengubah “Cuan” di Gang Sempit

Implementasi teknologi Vertiqua di Kelurahan Cikole menyasar dua kelompok utama: Karang Taruna dan Kelompok Pembudidaya Ikan (POKDAKAN) Talaga Urang. Sebelumnya, kedua kelompok ini menghadapi masalah serupa: rendahnya keterampilan teknis, sarana yang terbatas, dan lemahnya jaringan pemasaran.

Melalui kucuran dana dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebanyak 15 set Vertiqua diinstalasi. Hasilnya bukan sekadar janji di atas kertas. Data lapangan menunjukkan tingkat kelangsungan hidup ikan (survival rate) mencapai rata-rata 87%, dengan potensi panen mencapai 40-50 kg per set. Selain ikan nila yang segar, warga juga bisa memanen kangkung organik setiap dua minggu sekali untuk kebutuhan dapur atau dijual kembali.

Namun, budidaya hanyalah setengah dari perjuangan. UMMI menyadari bahwa produk yang bagus tidak akan berarti tanpa pasar yang kuat. Oleh karena itu, warga juga dibekali dengan pelatihan digital marketing. Kini, pemuda Karang Taruna Cikole mulai mahir menggunakan Instagram dan TikTok untuk mempromosikan hasil panen mereka. Mereka diajarkan cara mengambil foto produk yang menarik dan menulis konten yang menggugah selera.

Menuju Kampung Sehat Vertiqua (KASEV)

Visi UMMI melampaui sekadar bagi-bagi alat. Program ini dirancang untuk mencapai keberlanjutan jangka panjang yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin tanpa kelaparan dan pertumbuhan ekonomi. Kelembagaan usaha mulai dibentuk, lengkap dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) mulai dari pemeliharaan pakan hingga manajemen pemasaran.

Ke depan, konsep KASEV (Kampung Sehat Vertiqua) tengah dipersiapkan sebagai model kampung berbasis pangan sehat dan inovasi teknologi. KASEV tidak hanya akan menjadi pusat produksi ikan, tetapi juga diproyeksikan sebagai destinasi eko-eduwisata di tengah kota. Siswa sekolah atau wisatawan bisa datang untuk belajar bagaimana cara bertani di lahan sempit dengan teknologi ramah lingkungan.

Analisis keberlanjutan menunjukkan bahwa sekitar 75% komponen Vertiqua dapat dirawat secara mandiri oleh warga, sehingga risiko ketergantungan pada pihak luar sangat rendah. Hal ini menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan UMMI benar-benar tepat guna dan membumi.

Hilirisasi Riset untuk Rakyat

Kehadiran Vertiqua di Kelurahan Cikole adalah pesan kuat dari dunia akademik: bahwa riset dosen tidak boleh hanya berakhir di laci perpustakaan atau jurnal ilmiah yang sulit diakses warga. UMMI berkomitmen untuk terus menjadi jembatan hilirisasi inovasi yang menjawab persoalan riil di masyarakat.

Di gang-gang Cikole, harapan baru kini tumbuh di dalam drum-drum plastik dan rimbunnya tanaman kangkung. Keterbatasan lahan bukan lagi alasan untuk menyerah pada keadaan. Melalui sentuhan teknologi dan semangat gotong royong, kemandirian pangan kini bisa dimulai dari teras rumah sendiri. Inilah wujud nyata pengabdian UMMI bagi kemajuan Sukabumi dan Indonesia. (*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |