Dua Delegasi Indonesia Asal Sukabumi Hadiri China-ASEAN Education Cooperation Week 2025 di Guizhou, China

1 week ago 17

SUKABUMI — Ajang pendidikan bergengsi tingkat internasional, China-ASEAN Education Cooperation Week (CAECW) 2025, resmi dibuka di Guizhou, China, pada Sabtu (26/7). Acara tahunan ini kembali menjadi ruang strategis untuk memperkuat jejaring pendidikan, pertukaran budaya, hingga kolaborasi riset antara negara-negara ASEAN dengan Tiongkok.

Hadir dalam pembukaan, delegasi dari berbagai negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand, hingga Filipina, bersama ratusan akademisi dan praktisi pendidikan dari China. Suasana semakin meriah dengan penampilan budaya khas Tiongkok serta sambutan hangat dari tuan rumah yang menekankan pentingnya semangat kebersamaan dalam membangun masa depan pendidikan kawasan.

Salah satu tokoh yang menjadi keynote speaker adalah Prof. Stela Cristi, Wakil Menteri Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Republik Indonesia. Dalam pidatonya, Prof. Stela menegaskan bahwa inovasi, kolaborasi riset, dan pertukaran akademik lintas negara adalah tiga pilar utama dalam membangun pendidikan yang relevan di era global.

Menariknya, Indonesia turut mengirimkan perwakilan dari daerah, salah satunya dua delegasi asal Sukabumi, yakni Abdul Aziz Rahman dan Windy Fadzariyah. Keduanya hadir sebagai representasi praktisi pendidikan yang aktif mengembangkan inovasi pembelajaran di tingkat lokal dan kini mendapat kesempatan memperluas jejaring ke level internasional.

Menurut Abdul Aziz Rahman, keterlibatan dalam forum ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan praktik baik pendidikan di Indonesia. “Kami ingin membawa wajah pendidikan Sukabumi ke dunia internasional, sekaligus belajar banyak dari pengalaman negara lain dalam mengembangkan pembelajaran berbasis riset dan teknologi,” ujar guru di SMPN 2 Kadudampit, Kabupaten Sukabumi ini.

Sementara itu, Windy Fadzariyah menambahkan bahwa keikutsertaan dalam CAECW bukan hanya sekadar menghadiri konferensi, tetapi juga bagian dari diplomasi budaya. “Melalui interaksi lintas negara, kita tidak hanya bicara soal pendidikan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan budaya. Inilah bentuk nyata dari people-to-people connectivity di ASEAN,” katanya.

Setelah seremoni pembukaan, rangkaian kegiatan CAECW 2025 berlanjut dengan Workshop Guru di Guiyang Teacher Development Center, yang berlangsung dari 26 Juli hingga 1 Agustus 2025. Workshop ini diikuti oleh ratusan guru dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, dengan fokus utama pada peningkatan kompetensi guru sains.

Materi yang diberikan meliputi Filsafat Pendidikan China yang menekankan harmoni, disiplin, dan pengembangan karakter, Pendekatan Pembelajaran Berbasis Inkuiri (Inquiry-Based Learning) untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, Asesmen Literasi Sains, sebagai upaya membangun generasi yang kritis dan adaptif, serta kunjungan budaya yang memberikan perspektif baru dalam mengaitkan pendidikan dengan nilai-nilai tradisi.

Para peserta workshop juga diberi kesempatan untuk merasakan langsung integrasi teknologi dalam dunia pendidikan. Mereka mengunjungi pusat inovasi pendidikan, mencoba perangkat pembelajaran digital interaktif, hingga mengeksplorasi sistem informasi pendidikan yang digunakan sekolah-sekolah di Tiongkok.

Tak hanya itu, pengalaman budaya turut memperkaya kegiatan. Peserta diajak mengikuti kelas kaligrafi aksara China, di mana mereka menulis karakter Mandarin di atas kertas dan kipas tradisional. Setiap guratan huruf tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna filosofis, yang menambah pemahaman lintas budaya bagi para peserta.

Menurut Windy Fadzariyah, pengalaman ini memberi inspirasi untuk mengintegrasikan pendekatan lintas budaya dalam pengajaran. “Belajar teknologi memang penting, tapi memahami budaya suatu bangsa juga memperkuat empati dan koneksi global. Ini yang ingin saya bawa pulang ke kelas,” ungkapnya.

CAECW 2025 tidak sekadar ajang akademik, melainkan juga sarana diplomasi antarbangsa. Dengan tema besar “Strengthening Innovation and Partnership for Future Education”, kegiatan ini menegaskan komitmen ASEAN dan China untuk bersama-sama menghadapi tantangan pendidikan di era digital dan globalisasi.(wdy)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |