Inflasi Rendah Tidak Berarti Bebas Masalah, Pendidikan dan Transportasi Masih Jadi PR Kota Sukabumi

4 hours ago 3

RADARSUKABUMI.COM  – Laju inflasi Kota Sukabumi pada Agustus 2026 masih berada dalam level yang relatif terkendali. Berdasarkan catatan periode tersebut, inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 2,77 persen, sementara secara bulanan (month to month/mtm) berada di angka 0,22 persen.

Capaian tersebut menempatkan Kota Sukabumi dalam jajaran 10 daerah dengan tingkat inflasi terendah yakni di peringkat kesembilan. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan Kota Bogor yang mencatat inflasi 2,87 persen.

Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menilai, kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Menurutnya, kemampuan menjaga stabilitas harga penting agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap masyarakat.

“Angka ini jelas memberikan harapan ke depan untuk pertumbuhan ekonomi di Kota Sukabumi yang lebih baik. Di tengah dinamika global, laju inflasi Kota Sukabumi masih terhitung rendah,” kata Ayep Zaki, pada Selasa (8/9).

Meski demikian, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan terhadap inflasi sepanjang Agustus. Sektor transportasi dan pendidikan menjadi dua kelompok yang cukup berpengaruh, terutama akibat kenaikan tarif transportasi daring serta penyesuaian biaya pendidikan memasuki tahun ajaran baru.
Kenaikan biaya pendidikan tidak hanya berasal dari sekolah dasar dan menengah pertama, tetapi juga dari biaya bimbingan belajar. Kondisi tersebut turut memberikan kontribusi terhadap pergerakan inflasi Kota Sukabumi pada Agustus.

Pemerintah Kota Sukabumi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pun terus menjaga pasokan dan keterjangkauan harga, khususnya untuk komoditas pangan. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar Gerakan Pangan Murah di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Gunungpuyuh, Lembursitu dan Cibeureum.

Upaya pengendalian juga diarahkan pada penguatan pasokan pangan melalui komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Langkah ini dinilai penting karena ketersediaan serta harga pangan masih menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap inflasi daerah.
Di sisi lain, stabilitas harga berjalan beriringan dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang cukup positif. Pada triwulan II 2026, pertumbuhan ekonomi Kota Sukabumi tercatat mencapai 5,94 persen secara tahunan dan masuk dalam kelompok 20 besar pertumbuhan ekonomi tertinggi.

Bagi Pemkot Sukabumi, dua indikator tersebut menjadi pekerjaan yang harus dijaga secara bersamaan. Pertumbuhan ekonomi perlu terus didorong, sementara tekanan harga harus tetap dikendalikan agar peningkatan aktivitas ekonomi dapat dirasakan masyarakat.

“Catatan ini mengindikasikan Kota Sukabumi sudah berjalan di rel yang benar. Tinggal bagaimana meningkatkan pertumbuhan dan menekan laju inflasi dengan kreativitas dan keberanian mengambil kebijakan untuk Kota Sukabumi. Semoga ke depan ekonomi Kota Sukabumi semakin baik,” pungkas Ayep Zaki. (ris)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |