Bandung, Agustus 2026 – Perkembangan industri fashion muslim di Indonesia terus membuka peluang bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk tumbuh dan berinovasi. Salah satunya Syla Hijab, brand fashion muslim yang berdiri sejak 2021 dan fokus menghadirkan hijab motif dengan menyasar generasi muda, khususnya Gen Z, anak muda, hingga ibu muda.
Berawal dari keinginan menghadirkan kerudung motif yang sesuai dengan karakter remaja dan generasi Z, Syla Hijab terus mengembangkan produk dengan mengedepankan kreativitas dan inovasi desain. Di tengah persaingan industri hijab yang semakin kompetitif, Syla Hijab secara bertahap berhasil menemukan ciri khas desain yang menjadi identitas produknya.
“Awalnya tidak mudah karena banyak kompetitor di industri hijab. Namun, seiring waktu kami mulai menemukan desain khas sendiri. Kami terus berusaha memahami permintaan konsumen dan menciptakan motif-motif baru yang sesuai dengan karakter mereka,” ujar Rossy Anggraeni, owner dari Syla Hijab.
Salah satu momentum yang menjadi titik balik perkembangan Syla Hijab terjadi ketika produk-produknya mulai mendapatkan perhatian dari para affiliate. Respons positif tersebut turut meningkatkan awareness terhadap produk sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan. Hingga saat ini, konsep dan desain yang telah menjadi ciri khas Syla Hijab masih menjadi salah satu kekuatan produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Konsistensi dalam membaca kebutuhan pasar juga menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis Syla Hijab. Brand ini terus melakukan inovasi dengan menciptakan motif baru hampir setiap hari untuk mengikuti perkembangan tren sekaligus merespons permintaan konsumen.
Rossy wanita yang memiliki hobby membaca ini juga mengatakan pertumbuhan brand yang dia bangun sungguh luar biasa, “Alhamdulillah, kami terus mengalami growth karena selalu mengikuti passion dan permintaan konsumen. Kami berusaha membaca situasi pasar dan menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam produk,” tambahnya.
Sejalan dengan perubahan perilaku konsumen, media sosial menjadi salah satu kanal utama yang dimanfaatkan Syla Hijab untuk memasarkan produk sekaligus berinteraksi dengan pelanggan. Saat ini, sekitar 90 persen transaksi Syla Hijab dilakukan melalui media sosial. Besarnya kontribusi kanal digital membuat Syla Hijab terus mengikuti perkembangan zaman dan aktif membangun komunikasi dengan konsumen.
“Media sosial sangat berpengaruh terhadap perkembangan bisnis kami. Sekitar 90 persen transaksi berasal dari media sosial. Karena itu, kami harus terus mengikuti perkembangan zaman dan aktif di media sosial,” jelasnya.
Pertumbuhan transaksi digital tersebut juga meningkatkan kebutuhan terhadap layanan logistik yang dapat diandalkan. Bagi Syla Hijab, logistik memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran operasional sekaligus memenuhi ekspektasi konsumen, “Konsumen saat ini membutuhkan paket yang aman, dengan waktu yang efektif. Karena itu, kami selalu berusaha mengirimkan pesanan di hari yang sama agar produk bisa lebih cepat diterima oleh konsumen,” ungkapnya.
Kebutuhan terhadap layanan logistik yang responsif semakin terasa ketika terjadi lonjakan pesanan, khususnya saat terdapat event atau momentum tertentu. Dalam kondisi tersebut, kecepatan proses pengiriman menjadi penting agar peningkatan permintaan dapat diimbangi dengan pelayanan yang tetap optimal.
Dalam memilih mitra logistik, Syla Hijab mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari kecepatan pengiriman, komunikasi yang baik, hingga respons yang cepat dalam membantu kebutuhan seller.
“Pengiriman yang cepat, tim yang komunikatif, dan sales yang fast response menjadi hal yang penting bagi kami. Logistik sangat membantu karena kebutuhan seller dan konsumen terus berkembang dan layanan logistik harus bisa mengikutinya,” katanya.
Kepala Cabang JNE Cirebon, Firman Ramadhan, mengatakan bahwa pertumbuhan bisnis berbasis digital turut meningkatkan kebutuhan terhadap layanan logistik yang mampu memberikan kemudahan dan kecepatan bagi pelaku usaha. Menurutnya, UKM yang berkembang melalui kanal digital membutuhkan dukungan logistik yang dapat mengikuti dinamika transaksi dan kebutuhan konsumennya.
“Pertumbuhan UKM saat ini tidak terlepas dari perkembangan digitalisasi. Ketika transaksi semakin banyak dilakukan secara online, kebutuhan terhadap layanan logistik yang cepat, mudah, dan dapat diandalkan juga semakin besar. JNE berkomitmen untuk terus mendukung pelaku UKM agar dapat berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas melalui dukungan layanan logistik,” ujar Firman.
Ia menambahkan, kolaborasi antara pelaku UKM dengan mitra logistik menjadi bagian dari ekosistem yang saling mendukung. Pelaku usaha dapat lebih fokus mengembangkan produk dan memperluas pasar, sementara kebutuhan distribusi dapat didukung oleh layanan logistik yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.
“Seperti yang dilakukan Syla Hijab, inovasi produk dan pemanfaatan media sosial menjadi kekuatan dalam menjangkau konsumen. Kami melihat bahwa kebutuhan tersebut harus didukung dengan proses distribusi yang cepat dan efisien, sehingga konsumen mendapatkan pengalaman yang baik dan pelaku usaha dapat terus bertumbuh,” tambah Firman.
Keandalan layanan logistik juga dinilai memberikan kontribusi terhadap efisiensi operasional Syla Hijab. Dengan proses pengiriman yang berjalan cepat dan efektif, pelaku usaha dapat lebih fokus pada pengembangan produk, pemasaran, serta membangun hubungan dengan konsumen.
“Pengaruh logistik terhadap bisnis kami sangat besar, bahkan bisa dikatakan 100 persen. Kolaborasi dengan perusahaan logistik juga membuat operasional kami lebih efisien,” tambahnya.
Ke depan, Syla Hijab berkomitmen untuk terus memperkuat bisnis dengan mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan konsumen. Selain mengoptimalkan media sosial, Syla Hijab juga memiliki rencana untuk mengembangkan offline store serta memperluas jaringan distribusi melalui reseller dan agen.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus memberikan akses yang lebih luas bagi konsumen terhadap produk fashion muslim yang ditawarkan Syla Hijab.
“Kami akan terus mengikuti perkembangan zaman dan aktif di media sosial. Yang paling penting adalah terus berusaha dan berinovasi serta selalu membaca situasi pasar,” tutupnya.
Perjalanan Syla Hijab menjadi gambaran bagaimana UKM dapat memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas pasar sekaligus membutuhkan dukungan ekosistem yang mampu mengikuti pertumbuhan bisnis. Inovasi produk, pemanfaatan media sosial, serta dukungan layanan logistik yang cepat dan efisien menjadi bagian penting dalam membantu UKM berkembang dan semakin kompetitif di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. **
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)
















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6106891/original/010738600_1778992419-WhatsApp_Image_2026-05-16_at_17.46.41.jpeg)