SUKABUMI – Pemerintah Kota Sukabumi terus menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga berkarakter dan peduli terhadap lingkungan. Hal ini tampak dalam kegiatan sosialisasi yang digelar pada Rabu, (13/7/2025), di Ruang Pertemuan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi.
Menggandeng komunitas Restoe Boemi, kegiatan ini menyasar para pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari berbagai wilayah di Kota Sukabumi. Hadir dalam acara ini Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, Bunda PAUD Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, Ketua Restoe Boemi, Kia Florita, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota sukabumi Punjul Saepul Hayat serta puluhan pengelola dan pendidik PAUD.
Bunda PAUD Ranty Rachmatilah menekankan bahwa PAUD bukan sekadar tempat bermain dan belajar dasar, namun menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak-anak. Ia menyampaikan bahwa peran pendidik sangat krusial sebagai teladan dalam kehidupan anak-anak.
“Penanaman nilai-nilai keagamaan, etika, dan akhlak harus dimulai dari PAUD. Anak harus diarahkan untuk mampu menyimpulkan makna dari sebuah video atau peristiwa. Semua itu perlu dilakukan dengan keikhlasan hati,” ujar Ranty dalam pidatonya yang penuh semangat.
Lebih lanjut, Ranty menekankan bahwa lingkungan tempat anak tumbuh sangat menentukan pola pikir dan perilaku mereka kelak. Oleh karena itu, kerja sama antara sekolah dan keluarga menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik anak sejak usia dini.
“Pendidikan anak di rumah adalah tanggung jawab utama orang tua. Pendidik dan orang tua harus saling bersinergi,” tambahnya.
Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, dalam kesempatan yang sama menyampaikan keprihatinan terkait isu pengelolaan sampah di kota. Ia mengungkapkan bahwa Kota Sukabumi menghasilkan hingga 180 ton sampah per hari, dengan dominasi 60 persen sampah organik.
“Kondisi ini jelas mengancam kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cikundul. Maka dari itu, solusi nyata perlu segera dijalankan, salah satunya adalah penerapan sistem Controlled Landfill atau Sanitary Landfill untuk menggantikan open dumping,” tegas Bobby.
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi lingkungan sejak usia dini sebagai bagian dari pendidikan karakter. Menurutnya, perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil di rumah, seperti memilah sampah, membuat biopori, dan tidak membakar sampah.
“Masyarakat harus sadar, membakar sampah itu berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Kita perlu bergerak bersama. Jangan sampai pelaku open dumping harus berurusan dengan hukum karena ketidaktahuan,” ujarnya.
Bobby juga mencontohkan inovasi pengelolaan sampah RDF di kawasan Cimenteng yang bekerja sama dengan perusahaan Semen SCG. Menurutnya, penanganan sampah adalah proses jangka panjang, bahkan di negara seperti Denmark pun butuh waktu 30 tahun untuk mencapai sistem yang ideal.
Ketua Komunitas Restoe Boemi, Kia Florita, mengajak para guru PAUD untuk aktif mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kegiatan belajar mengajar. Ia menegaskan bahwa anak-anak adalah peniru ulung, sehingga guru harus menjadi contoh dalam membuang sampah dan menjaga kebersihan.
“Jangan hanya teori di kelas. Ajak anak-anak praktik langsung, misalnya dengan kegiatan memungut sampah atau bercocok tanam. Anak-anak akan lebih mudah belajar jika melihat dan mengalami langsung,” jelas Kia.
Ia berharap kegiatan ini bisa menjadi titik awal untuk menciptakan generasi yang peduli lingkungan, dan pada akhirnya mendukung Kota Sukabumi dalam meraih penghargaan Adipura, simbol kota bersih dan lestari.(wdy)