Pentas Manik Maya Tutup Bina Seni Budaya Sastra Inggris UMMI Sukabumi

17 hours ago 7

SUKABUMI – Riuh rendah tepuk tangan penonton memecah keheningan Auditorium Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) pada Sabtu (10/1) siang. Di atas panggung, para mahasiswa Program Studi Sastra Inggris angkatan 2023 baru saja menyelesaikan pementasan drama bertajuk Manik Maya. Sebuah pertunjukan yang bukan sekadar pemenuhan tugas akademik, melainkan manifesto pelestarian budaya di tengah gempuran modernitas.

Pementasan ini merupakan puncak dari mata kuliah Bina Seni Budaya pada semester 5. Di bawah bimbingan Advisor Fenty Sukmawaty, para mahasiswa ditantang untuk mengeksplorasi kedalaman sastra melalui seni peran, olah artistik, dan manajemen panggung yang profesional.

Sastra sebagai Cerminan Kehidupan

Dalam wawancara mendalam usai acara,  Fenty Sukmawaty menekankan bahwa kegiatan ini adalah wahana vital untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, sastra Inggris yang mereka pelajari tidak boleh melepaskan diri dari akar budaya lokal dan jati diri bangsa.

“Sastra merupakan cerminan kehidupan. Di setiap kata, setiap larik, dan setiap cerita, tersimpan hikmah, tuntunan, serta nilai-nilai kemanusiaan yang luhur,” ujar Fenty dengan penuh antusias.

Perempuan bergelar doktor ini menjelaskan bahwa melalui Manik Maya, penonton diajak untuk kembali menghayati estetika bahasa dan mendalami makna kehidupan yang seringkali terlupakan dalam keseharian yang serba cepat.

Keberhasilan pementasan ini tidak lepas dari kerja keras kolektif. Fenty memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh elemen yang terlibat, mulai dari sutradara, penata artistik, hingga para pemain yang telah berlatih berbulan-bulan.

Dukungan penuh dari UPT Lab UMMI sebagai sponsor utama juga menjadi kunci kelancaran teknis acara. “Tanpa kerja sama yang baik, tentu acara ini tidak akan dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Ini adalah bukti bahwa ekosistem kampus sangat mendukung kreativitas mahasiswa,” tambahnya.

Lebih jauh, Fenty berharap agar panggung Manik Maya tidak berhenti sebagai seremoni akhir semester. Ia memimpikan lahirnya bibit-bibit penggiat budaya yang mampu membawa sastra ke ranah yang lebih luas di masyarakat.

Pertunjukan ini menutup rangkaian kegiatan Bina Seni Budaya dengan kesan mendalam bagi para undangan yang hadir.

Di tengah tantangan zaman, mahasiswa Sastra Inggris 2023 UMMI telah membuktikan bahwa sastra tetap relevan, hidup, dan mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat melalui karsa dan karya.

“Saya berharap, dari panggung ini akan lahir semangat baru untuk terus berkarya, membaca, dan merawat sastra dalam berbagai bentuknya. Ini adalah investasi batin bagi para mahasiswa untuk memperkuat rasa bangga terhadap identitas budaya sendiri,” pungkasnya. (den)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |