SUKABUMI – Desa Ciwalat, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, tengah menjadi sorotan berkat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 17 Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) yang berlangsung sejak Juli hingga September. Mahasiswa yang diterjunkan ke desa ini membawa semangat besar untuk mendukung terwujudnya desa cerdas dan maju melalui berbagai program unggulan, salah satunya fokus pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Di antara potensi lokal yang menarik perhatian mahasiswa, terdapat kuliner khas Desa Ciwalat yang unik dan sarat sejarah, yaitu Sambal Jaer. Olahan tradisional yang memadukan pedasnya cabai dengan gurihnya ikan jaer ini telah lama menjadi hidangan khas masyarakat, khususnya di Dusun Babakan. Meski memiliki cita rasa otentik dan nilai historis, Sambal Jaer masih menghadapi sejumlah kendala, terutama dalam pemasaran dan pengemasan.
Masyarakat setempat memiliki beragam cerita tentang asal-usul kuliner ini. Salah satunya bermula dari sebuah pesantren di dekat kolam ikan. Pada masa itu, jumlah santri cukup banyak sementara persediaan makanan terbatas. Ikan jaer yang diperoleh tidak cukup untuk dibagi rata. Akhirnya, ikan diolah bersama cabai dan bumbu sederhana, melahirkan sambal jaer sebagai solusi agar semua bisa menikmatinya.
“Dari situlah akhirnya lahir sambal jaer, olahan sederhana yang bisa dinikmati bersama-sama oleh seluruh santri,” tutur Irma, pelaku UMKM Sambal Jaer di Dusun Babakan.
Versi lain datang dari kebiasaan anak-anak desa yang gemar memakan ikan mujaer, namun sering menyisakan bagian kepalanya. Melihat hal itu, para ibu rumah tangga berinisiatif mengolah sisa kepala ikan bersama cabai dan rempah. Hasilnya justru menjadi hidangan baru yang semakin digemari.
“Awalnya hanya untuk mengurangi sisa makanan, lama-kelamaan justru menjadi kuliner yang dicintai banyak orang. Kini sambal jaer terus dilestarikan dan biasa disantap dengan aneka daun muda,” ujar Nining, warga setempat.
Sambal Jaer dibuat dari bahan utama ikan jaer, cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, jahe, kencur, kecombrang, daun kemangi, hingga gula merah. Proses pengolahannya masih mempertahankan cara tradisional yaitu ikan digoreng terlebih dahulu, lalu cabai dan bumbu ditumbuk kasar agar cita rasa ikan tetap menonjol. Semua dilakukan dengan standar kebersihan rumah tangga, menghasilkan sambal dengan aroma khas dan rasa yang autentik.
Beberapa waktu lalu, produk ini mulai diminati hingga luar daerah. Seorang pembeli dari kota bahkan memesan ulang setelah mencicipinya. Namun, keterbatasan logistik, terutama pengiriman yang menjaga kesegaran produk, masih menjadi tantangan. Saat ini, kelompok UMKM Desa Ciwalat tengah menjajaki kerja sama dengan marketplace daring serta layanan pengiriman dingin.
Menyadari potensi besar sekaligus tantangan yang ada, mahasiswa KKN UMMI berupaya menghadirkan solusi. Mereka membuat publikasi artikel tentang Sambal Jaer di media digital untuk memperluas promosi. Selain itu, mahasiswa juga memberikan pendampingan mengenai pemasaran digital dan inovasi pengemasan agar lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami ingin produk khas Desa Ciwalat ini tidak hanya dikenal di Sukabumi, tapi juga bisa menembus pasar nasional. Salah satu langkah awalnya adalah dengan memperkuat promosi digital,” ujar Ariya Andika, Ketua KKN Kelompok 17.
Adapun kelompok 17 Desa Ciwalat yaitu Muhamad Rizal Maulana – Fakultas Ilmu Sosial, Muloh Abdul Gani – Fakultas Ilmu Sosial, Muhammad Zaki Abdul Rahman – Fakultas Ilmu Sosial, Nabila Ramadani – Fakultas Ilmu Sosial, Tiara Fathna Andini – Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Salma – Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Puspa Puspitasari – Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Randi Kusmirandi – Fakultas Pertanian, Raihan Firdaus – Fakultas Pertanian, St. Nurhaifa Alkhoiriyah – Fakultas Kesehatan, Septiani Al Baraah – Fakultas Kesehatan, Davin Alfian Juanda – Fakultas Sains dan Teknologi, Ariya Andika – Fakultas Sains dan Teknologi, Raditya Bagja Saputra – Fakultas Sains dan Teknologi serta dosen pembimbing Iis Nurasiah
Pelaku UMKM seperti Irma dan Nining berharap, upaya yang dilakukan mahasiswa KKN dapat membuka jalan lebih luas bagi pengembangan Sambal Jaer. Mereka menilai, dukungan pemerintah juga sangat penting, terutama dalam hal pemasaran.
“Kami ingin Sambal Jaer tidak hanya menjadi kuliner lokal, tetapi juga peluang usaha yang bisa menambah penghasilan keluarga. Harapannya pemerintah ikut membantu agar produk ini bisa dikenal lebih luas,” ungkap Ibu Irma penuh semangat.(wdy)