SUKABUMI – Komitmen pengelolaan sampah berbasis komunitas di Kabupaten Sukabumi kembali menguat dengan hadirnya Tungku Rakyat, sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar yang dirancang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusa Putra University (UNP). Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, secara langsung meresmikan penggunaan tungku ini di Kampung Pasir Nangka, Desa Mekarnangka, Kecamatan Cikidang, Jumat (1/8).
Peresmian Tungku Rakyat dilakukan sehari setelah peluncuran Tempat Pengolahan Sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Cimenteng, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikembar. Kedua inisiatif ini menandai langkah nyata Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam menanggulangi persoalan sampah dari berbagai skala – dari teknologi tingkat kabupaten hingga solusi akar rumput berbasis warga.
Dalam sambutannya, Andreas menekankan bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang tidak bisa diserahkan hanya kepada satu pihak atau satu wilayah.
“Sekitar 29,5 juta ton sampah per bulan dihasilkan di Jawa Barat. Namun, yang baru bisa dikelola hanya sekitar 10 persen. Ini masalah serius yang harus kita tangani sejak dari hulu, bukan hanya menumpuk di hilir seperti di TPA,” kata Andreas.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap inisiatif para mahasiswa Universitas Nusa Putra yang dinilainya sebagai contoh konkret kontribusi akademisi dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat.
“Tungku Rakyat ini langkah awal yang patut diapresiasi. Harapannya bisa menginspirasi desa-desa lain untuk membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Andreas menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sukabumi sedang menyusun kebijakan pengelolaan sampah yang lebih terpadu, bahkan membuka kemungkinan sanksi terhadap pelaku usaha pariwisata seperti hotel dan restoran yang abai terhadap pengelolaan limbah.
Sementara itu, Ketua Kelompok KKN NPU di Desa Mekarnangka, Nauval Raihan menjelaskan bahwa Tungku Rakyat lahir dari keprihatinan atas masih banyaknya warga yang membakar sampah secara terbuka, tanpa pengendalian emisi yang baik.
“Hasil survei kami menunjukkan praktik pembakaran sampah masih lazim dilakukan di pekarangan warga. Ini berisiko tinggi terhadap kesehatan dan lingkungan. Maka, kami rancang tungku dengan sistem pembakaran lebih tertutup dan efisien,” terang Nauval.
Tungku ini dirancang menggunakan dua pintu – satu untuk memasukkan sampah, dan satu lagi untuk mengeluarkan abu sisa pembakaran. Dengan suhu pembakaran mencapai 800 derajat Celsius, alat ini mampu mengurangi volume sampah hingga 90 persen dengan emisi polusi yang lebih rendah dibanding metode pembakaran terbuka.
“Kami bersyukur masyarakat antusias dan gotong royong membangun Tungku Rakyat ini. Kami harap ini jadi awal dari perubahan perilaku dan terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan lestari,” pungkasnya. (den)