Pengertian Tantrum
Fimela.com, Jakarta Tantrum merupakan ledakan emosi yang ditandai dengan perilaku anak yang tidak terkendali, seperti menangis, berteriak, memukul, atau bahkan melempar barang. Fenomena ini umumnya terjadi pada anak-anak di usia dini, ketika mereka belum mampu mengekspresikan dan mengelola perasaan mereka dengan baik.
Tantrum dapat muncul karena berbagai alasan, mulai dari keinginan yang tidak terpenuhi, rasa frustrasi, kelelahan, hingga perubahan lingkungan yang membuat anak merasa tidak nyaman. Meskipun tantrum dianggap sebagai bagian normal dari perkembangan anak, namun jika tidak ditangani dengan tepat, hal ini dapat berdampak buruk pada kondisi emosional dan perilaku anak di kemudian hari.
Gejala Tantrum pada Anak
Gejala tantrum pada anak dapat terlihat dari berbagai macam perilaku, di antaranya:
- Menangis, menjerit, dan berteriak
- Merengek
- Menahan napas
- Menendang dan memukul
- Mendorong
- Lemas
- Menegangkan badan dan meronta-ronta tubuhnya
- Melempar barang
Pada kondisi yang lebih parah, anak yang mengalami tantrum dapat menunjukkan gejala-gejala berikut:
- Sering mengamuk dalam waktu yang lama
- Frekuensi mengamuk yang cukup sering
- Melakukan kontak fisik dengan orang lain saat mengamuk
- Melukai diri sendiri, seperti menampar, menjambak rambut, atau guling-guling di tanah
Penyebab Tantrum yang Paling Umum
Penyebab tantrum pada anak dapat bervariasi, namun beberapa hal yang paling umum adalah:
- Temperamen Anak: Setiap anak memiliki temperamen yang berbeda-beda, ada yang cenderung mudah marah dan ada pula yang lebih santai. Temperamen ini turut memengaruhi reaksi anak terhadap situasi yang membuatnya frustrasi atau perubahan lingkungan.
- Stres, Kelaparan, Kelelahan, dan Stimulasi Berlebihan: Kondisi-kondisi ini dapat membuat anak sulit mengekspresikan dan mengelola perasaan, sehingga lebih mudah terpancing emosi.
- Mengalami Situasi yang Sulit bagi Anak-Anak: Meskipun terlihat biasa bagi orang dewasa, ada banyak situasi yang dianggap rumit oleh anak-anak, seperti mainan yang rusak. Hal ini dapat memicu rasa frustrasi dan berujung pada tantrum.
Cara Dokter Mendiagnosa
Tidak semua kasus tantrum perlu dibawa ke dokter. Jika gejalanya masih ringan dan terkendali, orang tua dapat menanganinya sendiri. Namun, jika tantrum anak semakin parah, sering terjadi, dan memengaruhi emosi anak, segera konsultasikan ke dokter.
Dalam proses diagnosis, dokter akan melihat gejala dan reaksi anak saat mengalami tantrum. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah perilaku tersebut merupakan tantrum biasa atau ada indikasi gangguan kesehatan mental. Diagnosis dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan secara efektif.
Cara Mengatasi Tantrum yang Tepat
Mengatasi tantrum dengan cara yang tepat dapat membantu anak belajar mengendalikan emosinya dengan baik, sehingga tidak terbawa hingga dewasa. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
- Tenangkan anak dengan memeluknya dan memberikan elusan lembut di punggung. Pastikan emosi orang tua juga stabil agar dapat mendampingi anak dengan baik.
- Alihkan perhatian anak dengan mengajaknya melihat atau membeli makanan favorit, namun tetap beri kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan emosinya.
- Hindari memberikan hukuman fisik, karena hal ini dapat membentuk karakter anak menjadi agresif di kemudian hari.
- Setelah tantrum mereda, ajak anak berbicara dengan nada lembut dan kata-kata yang baik, tanpa makian atau kata kotor.
Beberapa Cara untuk Mencegah Tantrum Berlebihan
Selain menangani tantrum saat terjadi, orang tua juga dapat melakukan beberapa upaya pencegahan, di antaranya:
1. Menghindari Pemicunya
Identifikasi apa yang menjadi pemicu tantrum pada anak, lalu hindari atau minimalisir paparan anak terhadap hal-hal tersebut.
2. Menghindari Penjual Snack atau Mainan Anak
Jika anak suka membeli snack atau mainan saat berbelanja, hindari area-area yang menjual benda-benda tersebut untuk mencegah tantrum.
3. Membiasakan Memberi Waktu Khusus Anak Boleh Bermain Gadget
Atur waktu khusus yang disepakati bersama anak untuk bermain gadget, agar tidak terjadi tantrum saat orang tua memintanya menyerahkan gadget.
4. Memeluk Anak Erat-Erat
Memeluk anak dengan erat saat tantrum dapat membuat anak merasa tenang dan mendapat perhatian dari orang terdekat.
Hindari langsung memenuhi keinginan anak saat tantrum, karena hal ini dapat menumbuhkan kebiasaan buruk.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun tantrum merupakan hal yang wajar, namun jika anak menunjukkan gejala yang tidak normal, seperti mudah marah, sering menangis tidak terkendali, atau melukai diri sendiri dan orang lain, segera konsultasikan ke dokter.
Penanganan oleh tenaga ahli diperlukan untuk memastikan apakah perilaku tersebut hanya tantrum biasa atau ada indikasi gangguan kesehatan mental yang perlu ditangani lebih lanjut. Dengan diagnosis dini, orang tua dapat memberikan penanganan yang tepat untuk membantu anak mengelola emosinya dengan baik.
Jadi, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter jika anak menunjukkan gejala tantrum yang tidak biasa. Hal ini penting dilakukan demi perkembangan emosional dan perilaku anak di masa depan.
Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.