Menkes Mengingatkan: Tak Perlu Panik, Dokter Spesialis Paru Sebut Gejala Awal Dampak Abu Vulkanik

8 hours ago 2
MenkesMenteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (foto: tangkap layar video IG @bgsadikin)

JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebelumnya mengimbau masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) untuk membatasi aktivitas di luar rumah.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun mengingatkan tidak perlu terlalu panik. Ia menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat berdampak pada tiga bagian tubuh yang perlu mendapat perhatian, yakni saluran pernapasan, mata, dan kulit.

“Tidak perlu panik, ada tiga dampak yang harus kita jaga bersama yaitu pernafasan, mata, dan kulit,” ucap Budi Gunadi dalam unggahan video di akun Instagramnya @ bgsadikin dikutip Senin (7/9/2026).

Menurut dia, bahwa Kemenkes mulai mengaktifkan HEOC (Health Emergency Operating Center) di seluruh daerah yang terdampak abu vulkanik GAK. Langkah ini disertai penerbitan surat edaran (SE) bagi tenaga kesehatan dan koordinasi rutin dengan dinas kesehatan di daerah.

“Kita akan pantau melalui Zoom rutin health emergency center Kemenkes dan kepada pihak Dinas Kesehatan seluruh kabupaten/kota,” ujar Budi.

Berdasarkan pantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa sebaran abu vulkanik GAK masih dinamis dan dapat berubah mengikuti aktivitas erupsi serta arah dan kecepatan angin.

Untuk itu, BNPB mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar tenang, dan menggunakan masker serta pelindung mata saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas jika konsentrasi abu meningkat, menutup makanan dan sumber air agar tidak terkontaminasi.

Diinformasikan, bahwa paparan abu vulkanik dapat memicu batuk hingga sesak, terutama pada kelompok rentan. Selain melindungi pernapasan, warga diminta membatasi aktivitas di luar rumah dan membersihkan abu dengan cara yang tepat.

Sementara itu, menurut Dokter Spesialis Paru dari RS Persahabatan, Erlina Burhan mengatakan abu vulkanik bukan hanya material seperti debu pada umumnya. Tetapi di dalamnya terdapat material batuan dan mineral dengan ukuran partikel yang beragam

Ketika terhirup, kata dia, material berbahaya itu dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan. Jika iritasi berlanjut menjadi peradangan, maka produksi sekret atau lendir di saluran napas dapat meningkat sehingga tubuh terus merespons dengan batuk.

“Bayangkan kalau material berbahaya itu kita hirup. Lama-kelamaan akan membuat kita sesak, ini saya kira akan sangat berbahaya,” ujar Erlina, dikutip dari laman Prohealth, Senin (7/9/2026).

Kondisi ini, kata dia, dapat berkembang menjadi berbahaya, terutama pada orang yang memiliki masalah pada saluran pernapasan. Orang dengan penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian serius.

Begitu pula lansia dan anak-anak yang saluran pernapasannya lebih rentan terhadap paparan. Selain itu, ibu hamil juga termasuk rentan karena batuk berkepanjangan dapat menimbulkan tekanan pada bagian perut.

“Kelompok rentan itu yang mudah sekali batuk dan sesak napas. Kalau dibiarkan batuk ini dibiarkan, ada potensi masuk virus dan kuman, ujungnya komplikasi berupa pneumonia,” kata Guru Besar Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) ini.

“Gejala awal bisa berupa bersin dan batuk. Tapi kalau kemudian batuk-batuk terus-menerus ini perlu penanggulangan medis segera,” ujarnya menambahkan.

Paparan abu vulkanik juga tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan. Partikel dengan ukuran berbeda dapat mengiritasi mata. Mata dapat dengan mudah menjadi merah atau terasa gatal. Untuk itu tidak dianjurkan menggosok mata dengan tangan.

“Mohon tidak dikucek-kucek dengan tangan ya, sebaiknya mata dibersihkan saja dengan air mengalir,” pesannya. (*)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |