RW 1 Warudoyong Kota Sukabumi Sukses Bangun Kampung Maggot

4 hours ago 2
Lurah Warudoyong, Nuke Nurul Aini, saat melakukan peninjauan budi daya maggot di RW 1 Kelurahan/Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, belum lama ini.

SUKABUMI — Tumpukan sampah yang selama ini identik dengan bau tak sedap dan persoalan lingkungan, kini justru berubah menjadi sumber harapan baru bagi warga RW 1 Kelurahan/Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Melalui inovasi pengelolaan sampah berbasis budi daya maggot, masyarakat setempat membuktikan bahwa limbah rumah tangga bisa disulap menjadi peluang ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan lingkungan.

Program yang lahir dari kesadaran warga ini berkembang menjadi gerakan kolektif yang membawa perubahan nyata. Lingkungan yang sebelumnya dihadapkan pada persoalan sampah kini tampak lebih bersih, tertata, dan produktif. Tidak hanya mengurangi volume sampah harian, program tersebut juga menghadirkan manfaat ekonomi yang mulai dirasakan masyarakat.

Lurah Warudoyong, Nuke Nurul Aini, mengapresiasi semangat warga dalam menjalankan program tersebut. Menurutnya, keberhasilan RW 1 tidak lepas dari kedisiplinan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan utama larva maggot yang dibudidayakan secara mandiri. “Sampah organik kita jadikan pakan maggot. Maggot ini bisa dipanen sekitar 18 hingga 20 hari sampai menjadi maggot dewasa,” ujarnya, Jumat (8/5).

Keberhasilan RW 1 Warudoyong bahkan mendapat perhatian di tingkat kota dengan meraih juara pertama dalam sayembara pengelolaan sampah Kota Sukabumi. Tak hanya mengolah sampah, warga kini mengembangkan hasil budi daya maggot menjadi sumber ekonomi baru. Maggot dewasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak bernutrisi tinggi dan umpan memancing. Dari hasil pengembangan tersebut, warga mulai merintis peternakan ayam dan bebek berbasis pakan maggot. “Alhamdulillah saat ini sudah ada sekitar 20 ekor anak ayam dan bebek,” tambah Nuke.

Suasana di RW 1 kini terasa berbeda. Area yang sebelumnya dipenuhi sampah berubah menjadi kawasan tertib dan produktif. Program ini juga memperkuat semangat gotong royong masyarakat. “Mulai dari pengumpulan sampah, pemilahan, hingga pengelolaan maggot dilakukan bersama-sama dengan penuh antusias,” jelasnya.

Selain berdampak pada lingkungan, inovasi ini membuka peluang usaha baru. Banyak warga mulai tertarik mempelajari budi daya maggot karena dinilai memiliki prospek ekonomi menjanjikan dengan biaya operasional rendah. “Kehadiran budi daya maggot mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengurangan sampah dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ucap Nuke.

Read Entire Article
Information | Sukabumi |