DIPADAMKAN : Petugas gabungan saat berupaya memadamkan api yang membakar 18 hektare hutan dan lahan di kawasan BKPH Bojonglopang, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, belum lama ini. FOTO : UNTUK RADAR SUKABUMISUKABUMI —Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selua 18 hektare yang melanda kawasan Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Bojonglopang, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Sukabumi menyoroti tajam ulah penggarap lahan yang menjadi pemicu utama bencana ekologis tersebut.
Amukan si jago merah yang pertama kali berkobar pada Minggu (9/8) malam itu baru tuntas tertangani setelah petugas gabungan dikerahkan ke lokasi.
Proses pemadaman melibatkan jajaran Polisi Hutan (Polhut), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Dinas Pemadam Kebakaran, serta partisipasi masyarakat setempat.
Kepala KPH Sukabumi, Dedy S.J Mulyanto menegaskan, peristiwa kebakaran di kawasan hutan pangkuan Perhutani ini tidak hanya merusak tegakan pohon, tetapi juga menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang sangat serius.
“Kebakaran BKPH Bojonglopang di Kecamatan Jampangtengah itu seluas 18 hektare dan sudah tertangani. Kami bersama rekan-rekan, terutama BPBD, alhamdulillah sudah menyelesaikan pemadaman,” ujar Dedy saat memberikan keterangan pada Selasa (11/8).
Menurut Dedy, kerugian terbesar dari insiden ini terletak pada sektor ekologis. Kebakaran tersebut mengancam keanekaragaman flora dan fauna, merusak kesuburan tanah, memicu potensi erosi, hingga memperparah krisis perubahan iklim akibat peningkatan emisi karbon.
“Tentu saja ini sangat merugikan. Kami tidak hanya rugi material di atas tanah berupa tegakan pohon, tetapi kondisi tanahnya sendiri mengalami kerugian ekologis yang sangat besar,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, pemicu awal timbulnya api berasal dari aktivitas pembakaran lahan oleh para penggarap di sekitar area bekas tebangan. Pembakaran sengaja dilakukan karena dinilai sebagai metode paling praktis, murah, dan cepat untuk membuka area pertanian baru.
Dedy menyayangkan sikap sebagian penggarap yang masih mengabaikan imbauan petugas. Padahal, sosialisasi bahaya pembakaran lahan terus digencarkan oleh jajaran Asisten Perhutani (Asper) hingga Mantri Hutan di wilayah tersebut.
“Kami sudah berulang kali menyosialisasikan agar tidak ada aktivitas pembakaran lahan. Namun di lapangan, metode tradisional ini masih dianggap paling mudah oleh sebagian pihak, padahal dampaknya sangat merusak lingkungan,” pungkasnya. (Den)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566130/original/037654700_1777115193-Nnicgi2v3KAezF9tDS92s4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557540/original/022217200_1776334209-1_-_HUAWEI_Mate_80_Pro.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)








