RADARSUKABUMI.COM – Kesibukan sebagai pimpinan perusahaan tidak membuat Rudi Suharya menutup mata terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. Di tengah aktivitasnya sebagai Pimpinan PT Tsurraya Anugerah Alam, ia tetap meluangkan waktu untuk mengambil bagian dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
BAMBANG SURYANA, SUKABUMI
Bagi Rudi, kehidupan tidak cukup hanya diisi dengan pencapaian pribadi. Ada tanggung jawab sosial yang menurutnya harus dijalankan, terutama ketika seseorang memiliki kesempatan, kemampuan, dan ruang untuk membantu orang lain. “Saya selalu memegang prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Karena itu, apa pun yang saya kerjakan, sebisa mungkin harus memberikan manfaat bagi orang lain,” kata Rudi Suharya kepada Radar Sukabumi, Rabu (26/8).
Lahir pada 15 Oktober 1975, Rudi telah melewati perjalanan panjang dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Pengalaman tersebut, semakin menguatkan pandangannya bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga oleh apa yang bisa diberikan kepada lingkungan dan masyarakat.
“Bagi saya, jabatan, pekerjaan, maupun posisi dalam organisasi adalah amanah. Yang paling penting adalah bagaimana amanah itu bisa dijalankan dengan baik dan memberikan dampak positif,” katanya.
Selain menjalankan aktivitas profesional sebagai pimpinan PT Tsurraya Anugerah Alam, Rudi juga aktif dalam kehidupan organisasi kemasyarakatan. Salah satu amanah yang dipercayakan kepadanya adalah sebagai Bendahara Umum Laskar Fisabilillah Kota Sukabumi dan juga banyak bergabung di organisasi kemasyarakatan lainnya. Amanah tersebut, menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di tengah masyarakat. Bagi Rudi, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul atau menjalankan struktur kepengurusan, melainkan ruang untuk membangun kebersamaan dan menghadirkan manfaat.
“Ketika kita berada dalam sebuah organisasi, tentu ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Saya melihat organisasi sebagai wadah untuk bersilaturahmi, membangun kebersamaan, sekaligus melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk masyarakat,” tuturnya.
Menjadi bagian dari masyarakat berarti memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar. Persoalan sosial yang muncul tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. “Pemerintah tentu tidak bisa berjalan sendiri. Masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, semuanya memiliki peran. Kalau semua bergerak bersama, saya yakin banyak persoalan bisa kita selesaikan dengan lebih baik,” ungkapnya.
Pandangan tersebut pula yang menjadi alasan Rudi tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial di sela-sela kesibukannya. Ia menilai waktu yang diberikan untuk masyarakat bukanlah sebuah kerugian, melainkan investasi kebaikan yang nilainya jauh lebih besar. “Waktu yang kita berikan untuk membantu orang lain sebenarnya tidak pernah sia-sia. Mungkin kita tidak mendapatkan apa-apa secara materi, tetapi ketika melihat orang lain terbantu, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri,” bebernya.
Bagi Rudi, pengabdian juga tidak harus selalu dilakukan melalui sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan arti bagi orang lain.
“Tidak harus menunggu menjadi orang besar untuk bisa berbuat baik. Dengan kemampuan yang kita punya, sekecil apa pun kalau dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, insya Allah akan ada manfaatnya,” ujarnya.
Ia berharap, keberadaannya di tengah masyarakat dapat terus memberikan energi positif. Baginya, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengambil peran sesuai dengan kapasitas masing-masing. “Yang penting adalah kemauan untuk berbuat. Jangan selalu berpikir apa yang akan kita dapatkan. Sesekali kita harus bertanya, apa yang bisa kita berikan kepada orang lain,” ucapnya.
Prinsip tersebut, menjadi pegangan Rudi dalam menjalani berbagai peran. Sebagai seorang profesional, ia berusaha menjalankan tanggung jawab dengan baik. Sebagai bagian dari organisasi, ia berupaya menjaga amanah. Sementara sebagai anggota masyarakat, ia ingin tetap hadir ketika dibutuhkan. Menurutnya, kehidupan sosial membutuhkan kepedulian yang dibangun secara bersama-sama. Tidak cukup hanya dengan berbicara tentang perubahan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. “Kita semua punya peran. Tidak perlu melihat siapa yang paling besar kontribusinya. Yang penting kita bergerak sesuai kemampuan masing-masing dan memberikan sesuatu yang positif bagi lingkungan,” tambahnya.
Rudi juga memandang bahwa pengalaman hidup merupakan guru yang tidak ternilai. Setiap perjalanan, baik dalam dunia usaha maupun organisasi, memberikan pelajaran tentang tanggung jawab, kesabaran, kerja sama, dan kepedulian. “Semakin bertambah usia, saya justru semakin memahami bahwa hidup ini bukan hanya tentang mengejar apa yang kita inginkan. Ada waktunya kita harus berbagi, membantu, dan memikirkan orang lain,” tuturnya.
Di tengah perjalanan hidupnya, Rudi ingin terus menjaga semangat tersebut. Ia tidak ingin kesibukan profesional menjadi alasan untuk menjauh dari masyarakat. “Selama masih diberikan kesehatan, kesempatan, dan kemampuan, saya ingin terus melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tidak harus selalu besar, yang penting ada kebaikan yang bisa kita tinggalkan,” cetusnya.
Ukuran keberhasilan seseorang pada akhirnya bukan hanya seberapa tinggi jabatan yang diraih atau seberapa besar usaha yang dibangun. Lebih dari itu, keberhasilan tercermin dari seberapa banyak keberadaannya memberikan manfaat. “Kalau suatu saat kita sudah tidak ada, yang tertinggal bukan jabatan atau harta. Mudah-mudahan yang tertinggal adalah kebaikan dan manfaat yang pernah kita berikan kepada orang lain,” pungkasnya. (*)
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579725/original/015072000_1778068987-IMG_8757.jpeg)















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6106891/original/010738600_1778992419-WhatsApp_Image_2026-05-16_at_17.46.41.jpeg)