Baru sekali ini saya satu meja dengan tokoh-tokoh Tim Enam. Asta Cashtry Yang salah satunya kemudian menjadi menteri perencanaan pembangunan nasional (PPN)/Ketua Bappenas: Dr Rahmat Pambudi.
Sewaktu berpidato di podium, Menteri Rahmat sempat berseloroh sambil menatap ke saya: “mumpung ada Pak Dahlan apakah saya bisa jadi anggota perusuh Disway,” katanya.
Di meja itu ada juga yang kemudian menjadi setingkat menteri: Kepala Badan Gizi Nasional Dr Dadan Hindayana.
Bersama Kepala BGN Dadan Hindayana.–
Lalu ada koodinator Tim Enam: Prof Burhanuddin Abdullah, kini komisaris utama PLN.
Masih ada lagi: Prof Laode Kamaluddin yang dulu bertugas merumuskan Asta Cita menjadi buku. Kini Prof Laode punya jabatan kepala Badan Sertifikasi Artificial Intelligence.
Yang dua lagi saya baru sekali ini bertemu: yang laki-laki muda dengan rambut dikuncir itu Pramudya Oktavinanda. Ia ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI). Bukan anggota Tim Enam, tapi tergabung dalam Prasasti –yang memayungi Tim Enam.
Sedang yang wanita 5i di sebelahnya itu, bintang acara Rabu kemarin: Dr dr Cashtry Meher. Juga tergabung di Prasasti.
Itu acara peluncuran buku yang ditulis Dr Cashtry. Tempatnya di ballroom hotel Ritz Carlton SCBD Jakarta. Judul bukunya: Selamatkan Nyawa, Hadirkan Tawa.
Kreatif sekali. Isi buku itu dipresentasikan dengan cara unik: lewat lukisan pasir. Si pelukis, Ronald, tentu menafsirkan isi buku menurut persepsinya sebagai pelukis.
Maka di atas kaca berpasir Ronald memulai lukisannya dengan ibu hamil. Yang hadir tidak terlalu memperhatikan Ronald yang lagi melukis di sisi kanan panggung. Saya pun lebih memperhatikan layar lebar di depan. Apa pun yang terlukis di pasir direfleksikan ke layar besar. Yakni penggambaran kronologi sejak ibu hamil sampai terbentuknya masyarakat sehat.
Intinya: kalau ibu hamil diperhatikan gizi dan kesehatannya lahirlah generasi baru Indonesia yang sehat. Lalu jayalah Indonesia tahun 2045. Hadirin bertepuk riuh.
Ini bukan buku tentang stunting. Dr Cashtry lebih banyak menulis tentang perlunya kebijakan negara yang pro kesehatan. “Kesehatan itu hak warga negara. Bukan hadiah dari pemerintah,” tulisnyi.
Tentu malam harinya saya langsung membaca buku Cashtry. Isinya serius: mulai dari bagaimana seharusnya pendidikan dokter sampai pendistribusiannya.
Cashtry sendiri dokter ahli kulit dan kelamin. Dia menjabat humas di pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Karena itu wartawan mengejar Cashtry saat mantan Presiden Jokowi menderita sakit kulit. Yakni setelah kembali dari penugasan mewakili Presiden Prabowo melayat wafatnya Sri Paus ke Vatikan.
Pendapat Cashtry-lah yang kemudian dipercaya secara luas. Bukan pendapat tahayul yang beredar di medsos, misalnya, akibat kena kutukan.
Waktu itu Cashtry memberikan gambaran beberapa kemungkinan. Yang paling kuat adalah akibat penyakit SJS (Stevens-Johnson Syndrome). Itu lebih mendekati kebenaran daripada misalnya karena alergi.
Gejala SJS memang mirip alergi. Di mata awam. Tapi di mata ahli seperti Cashtry keduanya beda sekali.
Kemungkinan besar menyebab SJS itu “salah makan obat”. Obat yang mengandung allopurinol tidak cocok bagi orang tertentu yang di dalam darahnya mengandung HLA-B*58:01.
Sistem kekebalan tubuh manusia punya mekanismenya sendiri. Melihat ada allopurinol masuk ke tubuh, sistem imun langsung menyerangnya. Sistem imun orang itu mengira yang masuk tadi musuh utama. Lalu diserang keras. Sampai kulit berbercak seperti terbakar. Mulut sariawan.
Sayangnya banyak orang belum tahu tubuhnya sendiri. Yang merasa seperti terkena flu langsung minum obat penurun demam. Padahal ada obat penurun demam yang mengandung allopurinol. Biasanya obat ini diminum oleh orang yang menderita asam urat.
Sakit seperti Pak Jokowi itu disebut SJS sejak tahun 1922. Yakni sejak dua dokter ahli kulit Amerika menerbitkan tulisan di jurnal tentang ditemukannya penyakit seperti itu. Nama mereka Stevens dan Johnson.
Kini banyak orang terkena SJS. Cashtry punya klinik penyakit kulit dan kelamin di Jakarta. Sebulan dia hanya berpraktik lima hari –seperti tidak butuh uang. Waktu selebihnya dia habiskan untuk pengabdian dan penelitian. Di mana ada bencana di situ ada Cashtry. Termasuk di Aceh Tamiang yang terkena banjir bandang bulan lalu.
Bersama Kepala BGN Dadan Hindayana.–
Hanya dari lima hari praktik Cashtry menemukan beberapa kasus SJS. Tapi tahapnya masih sangat awal. Dengan demikian masih bisa disembuhkan?
“Tidak bisa. Tapi karena awal masih bisa dikendalikan,” ujar Cashtry.
Dia tidak heran kalau wajah penderita SJS berubah. “Itu disebut wajah moon face”, katanyi. Itu dampak dari obat untuk mengendalikan SJS.
Kalau lagi tidak ada bencana Cashtry terjun ke daerah-daerah kritis stunting. Objek utamanya di kepulauan Nias. Di situ Cashtry bekerja sama dengan gereja BNKP.

Dr dr Cashtry Meher.–
Awalnya saya menebak BNKP itu singkatan dari Batak Nias Kristen Protestan. Ternyata salah. Inilah yang benar: Banua Niha Keriso Protestan.
Anda sudah tahu apa arti Banua Niha: Tanah orang Nias. Keriso adalah Kristus. Itulah gereja terbesar di seluruh Nias. Di situ Cashtry sekaligus melakukan penelitian. Disertasi doktornyi diambil dari situ. Banyak sekali Cashtry menulis jurnal ilmiah dari Nias.
Cashtry sendiri orang Medan. Ayahnyi keturunan Afganistan. Ibunyi: Tionghoa dari Pontianak. Karena itu dia pernah ke Afganistan. Dua kali. Masih punya keluarga di sana. “Kalau ke Pontianak sering,” katanyi.

Kepala Bappenas Dr Rahmat Pambudi.–
Gelar dokternyi sendiri diperoleh dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Di UISU pula master dan doktornya.
Cashtry sudah kaya dari sono-nya: ayahnyi pengusaha tambang.
Meski satu meja dengan tokoh-tokoh Asta Cita saya tidak sempat ngobrol soal itu. Padahal saya ingin sekali tahu komentar mereka: apakah Asta Cita masih tetap dipegang oleh pemerintah –setelah lebih satu tahun berkuasa. Atau senasib dengan Nawa Cita dan Revolusi Mental di pemerintah yang lama.
Masih ada waktu.
Mungkin lusa. Atau di lain hari –maafkan Koes Ploes.(Dahlan Iskan)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2899146/original/034869900_1567402516-nathan-dumlao-Y3AqmbmtLQI-unsplash.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165524/original/089051900_1742184259-31b2e2886c2436118ff9f2661d63837b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353440/original/032378200_1758174316-IMG-20250918-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4804288/original/011858300_1713347596-20240417-Bisnis_Laundry-HER_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378300/original/038655500_1760238476-IMG_8887_1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5349887/original/013004200_1757937588-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366188/original/061039700_1759219986-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_12.01.08_dad434cb.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5391590/original/061742600_1761357910-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362137/original/065962700_1758852276-IMG-20250925-WA0044.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5353060/original/001282800_1758166348-CAMPUS_CONNECT_x_UNJ_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361062/original/011863100_1758775101-WhatsApp_Image_2025-09-22_at_10.24.32.jpeg)