Iman yang Terlupakan: Saat Dunia Menjadi Segalanya

1 hour ago 3

DI ERA informasi yang bergerak secepat kilat, kita kerap kali terjebak dalam pusaran berita global. Di media sosial, warung kopi, hingga ruang tamu keluarga, topik pembicaraan kita tak jauh dari keluhan tentang kondisi dunia. Namun, ada ironi besar yang menyelimuti umat Rasulullah SAW hari ini: kita begitu fasih membahas krisis duniawi, namun mendadak bungkam saat menyentuh keruntuhan fondasi spiritual kita sendiri.

Mata yang Terpaku pada Dunia

Dunia hari ini memang sedang tidak baik-baik saja. Perhatian masyarakat tersedot sepenuhnya pada berbagai fenomena berikut:

Krisis Moneter dan Ekonomi

Kecemasan akan nilai tukar, inflasi yang melonjak, dan daya beli yang menurun menjadi momok menakutkan. Kita takut tak bisa makan, kehilangan aset, dan menghadapi masa depan finansial yang suram.

Krisis Politik

Polarisasi kekuasaan, perebutan kursi, hingga kebijakan publik yang kontroversial mendominasi lini masa. Kita sibuk berdebat tentang siapa yang layak memimpin, namun lupa memimpin diri sendiri.

Krisis Sosial dan Internasional

Ketegangan antarnegara, peperangan, hingga isu-isu kemanusiaan global menjadi konsumsi harian. Kita mengomentari geopolitik dengan detail, seolah-olah ahli strategi dunia.

Krisis Kontemporer

Mulai dari krisis iklim hingga kesehatan global, semua yang bersifat material dan kasat mata mendapat porsi perhatian utama.

Memperhatikan hal-hal tersebut tentu bukan kesalahan. Sebagai manusia, kita memang perlu solusi atas masalah hidup. Namun pertanyaannya: mengapa perhatian kita berhenti hanya sampai di sana?

Krisis Tersembunyi: Yang Terlupakan dan Tak Lagi Dipedulikan

Di tengah hiruk-pikuk komentar kita terhadap dunia, ada tiga krisis mendasar yang justru berada di titik nadir—namun jarang masuk dalam daftar kekhawatiran utama kita:

1. Krisis Aqidah (Keyakinan)

Inilah akar dari segala masalah. Banyak dari kita lebih takut pada kemiskinan daripada kehilangan iman. Ketika tauhid mulai luntur, manusia lebih bergantung pada sebab-sebab duniawi ketimbang kepada Sang Pencipta. Sinkretisme, liberalisme yang kebablasan, dan sikap acuh terhadap batas-batas syariat perlahan menggerogoti keyakinan umat.

2. Krisis Ibadah (Pengabdian)

Lihatlah masjid-masjid kita. Saat krisis ekonomi melanda, orang berbondong-bondong mencari bantuan. Namun saat azan berkumandang, berapa banyak yang menyambutnya? Krisis ibadah bukan sekadar meninggalkan salat, tapi juga kehilangan ruh dalam ibadah. Salat menjadi rutinitas tanpa kekhusyukan, tilawah ditinggalkan, dan zikir tergantikan oleh hiruk-pikuk konten digital.

3. Krisis Akhlak (Moralitas)

Dunia maya penuh caci maki. Kejujuran dianggap kebodohan, kelicikan dipuja sebagai kecerdasan. Rasa hormat kepada yang tua memudar, kasih sayang kepada yang muda menipis, dan amanah dalam bekerja kian langka. Tanpa akhlak, kemajuan ekonomi dan politik hanya akan melahirkan bentuk penindasan baru.

Kesimpulan: Kembali ke Akar

Rasulullah SAW telah mewariskan pedoman hidup yang sempurna. Beliau tidak mengajarkan kita untuk menutup mata dari kondisi dunia, namun menekankan bahwa perbaikan dunia dimulai dari perbaikan hubungan kita dengan Allah SWT.

Jika hari ini kita giat mengomentari krisis moneter namun membiarkan anak cucu kita terjerumus dalam krisis aqidah, maka sesungguhnya kita sedang menabung kehancuran yang lebih besar. Sudah saatnya kita menyeimbangkan perhatian: jangan sampai kita menjadi umat yang “pintar dalam urusan dunia, namun bodoh dalam urusan akhirat.”

Sudahkah kita sekhawatir melihat iman yang melemah, sebagaimana kita khawatir saat melihat saldo tabungan yang menipis?
Itulah pertanyaan besar yang harus kita jawab, masing-masing dari kita.(**)

Penulis : Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Cisaat dan Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal Ustadz Muhammad Azzam muttaqie, Lc

Read Entire Article
Information | Sukabumi |