Salah besar. Ternyata Inul sendiri kenal baik dengan pemilik travel Bakkah: Ahmad Bajuri. Juara Inul Kenalan lama.
Sejak Bajuri masih menjadi wartawan lokal. Sejak Inul masih jadi penyanyi lokal.
Bajuri memang penggemar dangdut. Ia tahu Inul selalu tampil di diskotik dangdut di Surabaya. Tiap Minggu malam.
Nama diskotiknya Anda pasti lupa: Permata. Lokasinya di seberang pusat hiburan malam Mahkota. Keduanya berdekatan: di dekat bundaran ”Bambu Runcing” pusat kota Surabaya.
Bedanya: Mahkota untuk kalangan atas, disko Permata untuk kalangan bawah. Yang untuk kalangan atas itu gedungnya lima lantai. Ada resto masakan Tionghoanya. Ada arena judinya: judi ding-dong.
Dua-duanya satu pemilik. Dua-duanya kini sudah tidak ada.
Yang diskotik dangdut itu bangunannya satu lantai. Yakni di sebelah hotel kelas melati: Hotel Tanjung.
Tiap Minggu malam Bajuri ke diskotik dangdut itu. Lihat Inul. Saat itu namanyi sudah Inul Daratista. Masih lokal tapi sudah lumayan terkenal. Bajuri ingat lagu yang sering dinyanyikan Inul berjudul ”Liku-liku”. Yakni lagu yang diciptakan Renold Panggabean.
Penyanyi pop sekelas Renold pun saat itu punya album dangdut. Yang musiknya lebik menonjol dari vokalnya. Anda sudah tahu siapa Renold: pernah jadi suami Camelia Malik.
Di diskotik Permata itulah Inul berubah nasib. Salah satu pengunjungnya orang Belanda yang sering ke Surabaya. Dalam kunjungan kesekian kalinya si Belanda mengundang Inul ke Belanda. Yakni untuk tampil di pasar malam di sana. Pasar malam yang sudah melegenda. Tong-Tong namanya. Satu bulan.
Bajurilah yang ikut mendorong agar Inul menerima tawaran itu. Memang honornya amat kecil tapi baik untuk batu loncatan. Dan lagi kapan pula anak desa Japanan, Sidoarjo, ini bisa ke Eropa.
Salah satu syarat Inul bisa ke Belanda adalah ini: harus punya email. Saat itu Inul belum punya email. Juga belum tahu cara membuat email.
“Gampang. Saya buatkan,” ujar Bajuri.
Usai mentas di diskotik itu Inul diajak Bajuri ke kantornya di Graha Pena Surabaya. Itu tahun 1998. Gedungnya belum sepenuhnya jadi. Masih banyak bahan bangunan menumpuk di sana-sini.
Dahlan Iskan umroh bersama istri Nafsiah Sabri (dua dari kanan) serta rombongan Inul Daratista (paling kanan).–
Inul diminta menunggu di tempat parkir. Mobilnya masih Espass. Sudah hampir pukul 02.00. Jam penampilan Inul di Permata adalah pukul 00.00 sampai pukul 01.00. Minggu malam biasanya sepi. Pengunjung diskotik sudah habis-habisan di Sabtu malam. Inul ditaruh di Minggu malam untuk membuat hari sepi menjadi ramai.
Saat Inul menunggu di tempat parkir itulah Bajuri naik ke kantornya di lantai 20. Ia buatkan alamat email Inul.
Berangkatlah Inul ke Belanda. Satu bulan penuh. Nama Inul pun bisa dipromo sebagai artis internasional. Apalagi setelah itu Inul juga diundang ke Jepang.
Umrahnyi kali ini adalah umrah ketiga. Dua adik kandungnyi diajak serta. Adik ketiga dan kelima. Juga sekretarisnyi. Ditambah juru riasnyi.
“Sudah 20 tahun saya selalu ajak mas Djaya umrah. Baru kali ini mau,” ujar Inul tentang Djaya Uniwati.
Inul memang sering mengumrahkan orang. Selama 16 tahun terakhir sudah lebih 100 orang dia berangkatkan ke Makkah. Itu lantaran Inul sangat bersyukur dikaruniai anak. Laki-laki pula.
Halaman: 1 2