Pakar Universitas Nusa Putra Soroti Tantangan dan Peluang AI di Dunia Pendidikan

12 hours ago 7

SUKABUMI – Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kalangan siswa dan mahasiswa kian meluas seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Mulai dari merangkum materi pelajaran, menyusun kerangka esai, hingga membantu menulis kode program, teknologi berbasis AI generatif kini telah menjadi bagian dari keseharian belajar di sekolah maupun perguruan tinggi.

Dosen Universitas Nusa Putra (NPU), Aryo, menilai fenomena tersebut tidak dapat dihindari dan harus disikapi secara bijak. Menurutnya, kehadiran AI di ruang kelas menghadirkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun di saat yang sama juga membawa tantangan serius bagi dunia pendidikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem AI generatif berkembang sangat pesat. Teknologi ini mampu menghasilkan teks, gambar, hingga kode program berdasarkan pola data yang dipelajarinya. Di lingkungan pendidikan, AI kerap hadir sebagai “asisten digital” yang selalu siap membantu proses belajar peserta didik.

Bagi sebagian mahasiswa, AI menjadi alat untuk mempercepat pemahaman. Materi yang kompleks dapat diringkas dalam waktu singkat, konsep yang sulit dijelaskan ulang dengan bahasa yang lebih sederhana, serta latihan soal dapat dibuat secara instan. Dalam konteks ini, AI dinilai berpotensi memperluas akses pembelajaran, khususnya bagi peserta didik yang kesulitan mengikuti ritme pembelajaran konvensional.

“Kalau digunakan dengan benar, AI bisa berfungsi seperti tutor pribadi. AI membantu mahasiswa mengeksplorasi ide dan memahami konsep, bukan menggantikan proses berpikir,” ujar Aryo, dosen ilmu komputer Universitas Nusa Putra.

Namun di sisi lain, kemudahan yang ditawarkan AI justru memicu kekhawatiran di kalangan pendidik. Sejumlah dosen melaporkan meningkatnya tugas mahasiswa yang secara struktur dan gaya bahasa terlihat terlalu sempurna untuk level akademik tertentu. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa AI tidak lagi digunakan sebagai alat bantu, melainkan sebagai pengganti kerja intelektual.

Menurut Aryo, persoalan tersebut bukan sekadar bentuk baru dari praktik menyontek. Penggunaan AI tanpa kendali berisiko menimbulkan ketergantungan kognitif, yaitu kondisi ketika mahasiswa terbiasa menerima jawaban instan tanpa melalui proses analisis, sintesis, dan refleksi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis yang menjadi inti pendidikan tinggi.

Selain itu, AI generatif juga memiliki keterbatasan. Sistem ini dapat menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi tidak sepenuhnya benar, atau dikenal dengan istilah hallucination. Tanpa literasi digital yang memadai, siswa dan mahasiswa berpotensi menyerap informasi keliru sebagai fakta. Risiko lainnya adalah bias, karena AI belajar dari data masa lalu yang tidak selalu netral atau representatif.

Dari sisi integritas akademik, tantangan menjadi semakin kompleks. Jika sebuah esai dihasilkan oleh AI, muncul pertanyaan mendasar mengenai kepenulisan dan tanggung jawab akademik. Banyak perguruan tinggi kini berada di wilayah abu-abu antara pelarangan total yang dianggap tidak realistis dan pembebasan tanpa batas yang berpotensi meruntuhkan standar akademik.

Sejumlah universitas mulai merespons kondisi ini dengan pendekatan adaptif. Alih-alih hanya berfokus pada deteksi penggunaan AI, dosen didorong untuk merancang tugas yang menekankan proses belajar, refleksi personal, diskusi lisan, serta pemecahan masalah kontekstual—aspek-aspek pembelajaran yang sulit digantikan oleh mesin. Mahasiswa juga diajak memahami bahwa AI adalah sistem probabilistik, bukan sumber kebenaran mutlak.

Pengamat pendidikan menilai, perdebatan mengenai pemanfaatan AI di ruang kelas menandai fase transisi penting dalam dunia pendidikan. AI tidak lagi dapat diposisikan sebagai teknologi eksternal, melainkan telah menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran. Tantangannya kini bukan memilih antara menerima atau menolak, melainkan menentukan batas yang jelas: di mana AI boleh membantu, dan di mana manusia wajib berpikir sendiri.

Di tengah arus inovasi teknologi, satu hal menjadi semakin tegas. Kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih alat yang digunakan, melainkan oleh bagaimana alat tersebut membentuk cara berpikir penggunanya. AI bisa menjadi pengungkit kecerdasan dan kreativitas, atau sebaliknya menjadi pintu menuju kemalasan intelektual. Perbedaannya terletak bukan pada mesinnya, tetapi pada kebijakan institusi dan kedewasaan akademik para penggunanya. (wdy)

Read Entire Article
Information | Sukabumi |