Rukun dan Syarat Sah Puasa, Apa Bedanya? Temukan Penjelasannya di Sini

1 month ago 31

Fimela.com, Jakarta Puasa di bulan Ramadan adalah salah satu dari lima pilar Islam yang harus dijalankan oleh umat Muslim. Meski begitu, masih banyak yang merasa bingung membedakan antara syarat sah dan rukun puasa, padahal keduanya memiliki peran yang berbeda dalam menentukan validitas ibadah ini.

Syarat sah dan rukun puasa adalah elemen penting yang menjadi fondasi agar puasa diterima oleh Allah. Syarat sah puasa adalah ketentuan yang harus dipenuhi sebelum seseorang dapat melaksanakan puasa dengan benar, sementara rukun puasa adalah hal-hal yang wajib dilakukan selama menjalankan puasa. Jika salah satu dari syarat atau rukun ini tidak terpenuhi, maka puasa bisa dianggap batal atau tidak diterima.

Untuk memastikan puasa di bulan Ramadan 2025 menjadi lebih sempurna dan bermakna, mari kita pelajari lebih dalam mengenai perbedaan antara syarat sah dan rukun puasa, serta bagaimana keduanya berpengaruh terhadap kesempurnaan ibadah ini, seperti dirangkum oleh Fimela.com pada Rabu (26/2).

Lagi terlelap tidur siang saat berpuasa, malah mimpi basah. Terus apa yang harus kita lakukan ? Kira-kira ini bikin puasa batal nggak ya ? Langsung kita tanya hukumnya lewat Ustaz Menjawab.

Apa Itu Syarat Sah Puasa?

Syarat sah puasa adalah ketentuan yang harus dipenuhi agar puasa seseorang diterima secara syariat. Jika tidak memenuhi syarat ini, seseorang tidak bisa menjalankan puasa dengan sah, meskipun sudah menahan lapar dan haus sepanjang hari.

Berikut syarat sah puasa yang harus dipenuhi:

  • Beragama Islam

Puasa hanya diwajibkan bagi Muslim, sedangkan non-Muslim tidak memiliki kewajiban ini.

  • Baligh atau Dewasa

Anak-anak yang belum mencapai usia baligh tidak diwajibkan berpuasa, tetapi dianjurkan untuk belajar berpuasa secara bertahap.

  • Berakal Sehat

Orang yang mengalami gangguan jiwa atau tidak memiliki kesadaran penuh tidak diwajibkan menjalankan puasa.

  • Tidak dalam Keadaan Haid atau Nifas

Wanita yang sedang haid atau nifas tidak boleh berpuasa, tetapi wajib menggantinya di hari lain setelah Ramadhan.

  • Mengetahui Waktu Puasa

Puasa harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Jika seseorang salah menghitung waktu berbuka atau sahur, puasanya bisa batal. Jika semua syarat sah ini terpenuhi, seseorang dapat menjalankan ibadah puasa dengan benar dan diterima secara syariat.

Dikutip dari Nu Online, beragama Islam menjadi pondasi utama terlaksananya puasa, sebagaimana tertulis dalam hadits yang diriwayat kan oleh Imam Turmudzi dan Imam Muslim:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ

"Dari Abi Abdurrahman, yaitu Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab r.a, berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Islam didirikan dengan lima hal, yaitu persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, didirikannya shalat, dikeluarkannya zakat, dikerjakannya hajji di Baitullah (Ka'bah), dan dikerjakannya puasa di bulan Ramadhan." (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 7 dan Muslim: 19)

Apa Itu Rukun Puasa?

Jika syarat sah puasa berkaitan dengan kelayakan seseorang dalam menjalankan puasa, maka rukun puasa adalah bagian utama dari ibadah puasa itu sendiri. Rukun ini wajib dipenuhi agar puasa dianggap sah. Berikut adalah rukun puasa yang harus dilakukan:

  • Niat Sebelum Fajar

Puasa harus diawali dengan niat di malam hari sebelum fajar. Niat ini dilakukan dalam hati dan tidak perlu diucapkan secara lisan, tetapi harus ada kejelasan bahwa seseorang berpuasa karena Allah SWT.

  • Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa

Selama puasa berlangsung, seseorang wajib menahan diri dari makan, minum, serta segala hal yang dapat membatalkan puasa seperti hubungan suami istri dan muntah dengan sengaja.

  • Menjalankan Puasa dengan Kesadaran Ibadah

Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari amarah, kebohongan, serta perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa. Jika salah satu dari rukun ini tidak dilakukan, maka puasa seseorang dianggap tidak sah dan harus diganti di lain hari.

Perbedaan Antara Syarat Sah dan Rukun Puasa

Agar lebih mudah memahami perbedaannya, berikut adalah poin-poin yang membedakan syarat sah dan rukun puasa:

  • Syarat sah puasa lebih berfokus pada individu yang menjalankan ibadah, apakah ia layak dan mampu untuk berpuasa secara syariat.
  • Rukun puasa lebih berfokus pada pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri, seperti niat sebelum fajar dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.
  • Jika syarat sah tidak terpenuhi, maka seseorang tidak diwajibkan berpuasa, seperti anak kecil yang belum baligh atau orang sakit yang tidak mampu.
  • Jika rukun puasa tidak terpenuhi, maka puasanya dianggap tidak sah, misalnya seseorang lupa berniat sebelum fajar atau sengaja makan dan minum di siang hari.

Syarat sah adalah ketentuan sebelum puasa dimulai, sementara rukun adalah hal yang harus dijalankan selama puasa berlangsung.

Dengan memahami perbedaan ini, setiap Muslim bisa memastikan bahwa puasanya benar-benar sah dan diterima oleh Allah SWT.

Hal yang Membatalkan Puasa Jika Syarat atau Rukun Tidak Dipenuhi

Jika seseorang tidak memenuhi syarat sah atau rukun puasa, maka puasanya bisa batal atau tidak diterima. Berikut adalah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan puasa tidak sah:

  • Tidak Berniat Sebelum Fajar

Jika seseorang lupa berniat sebelum fajar, puasanya dianggap tidak sah dan harus diulang di hari lain.Makan atau Minum dengan SengajaJika seseorang makan atau minum dengan sengaja di siang hari, puasanya batal dan harus diganti di hari lain.

  • Berhubungan Suami Istri di Siang Hari

Tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga mewajibkan seseorang untuk membayar kafarat (denda), yaitu berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.

  • Haid atau Nifas

Wanita yang mengalami haid atau nifas saat sedang berpuasa harus membatalkan puasanya dan menggantinya di hari lain setelah Ramadhan.

  • Muntah dengan Sengaja

Jika seseorang muntah dengan sengaja, maka puasanya batal dan harus diganti di hari lain.Dengan memahami hal-hal yang membatalkan puasa, setiap Muslim dapat lebih berhati-hati dalam menjalankan ibadahnya agar tetap sah dan diterima oleh Allah SWT.

People Also Ask (FAQ)

1. Apakah seseorang yang lupa berniat puasa tetap sah puasanya?

Tidak, niat harus dilakukan sebelum fajar agar puasa sah.

2. Apakah anak kecil boleh berpuasa meskipun belum baligh?

Boleh, tetapi tidak diwajibkan. Mereka dianjurkan untuk belajar berpuasa secara bertahap.

3. Apa yang terjadi jika seseorang lupa dan makan saat puasa?

Jika lupa, puasanya tetap sah. Namun, jika sengaja, maka puasanya batal dan harus diganti di lain hari.

4. Apakah orang sakit tetap wajib berpuasa?

Tidak, mereka diperbolehkan tidak berpuasa dan bisa menggantinya di hari lain atau membayar fidyah jika tidak mampu berpuasa lagi.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Information | Sukabumi |